• September  2014
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
    1 2 3 4 5 6 7
    8 9 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30  
  • MEMPERBARUI MODEL BISNIS

    Ningky Sasanti Munir*

    Sadar atau tidak, setiap perusahaan memiliki model bisnis dan beroperasi sesuai model bisnisnya tersebut. Model bisnis adalah kombinasi optimal komponen-komponen yang membuat perusahaan dapat menghasilkan laba dan terus bertahan. Johnson, Christensen dan Kagerman (2008) dalam majalah Harvard Business Review mengatakan bahwa sebuah model bisnis terdiri dari empat komponen: proposisi nilai bagi konsumen, formula laba, sumber daya kunci dan kegiatan-kegiatan atau proses-proses kunci. Sedangkan Osterwalder (2010) memperkenalkan kanvas model bisnisnya yang terdiri dari sembilan komponen: customer segments, channels, customer relationships, value propositios, key activities, key resources, partnership networks, cost structures, dan revenue streams.

    Berapapun komponen model bisnis perusahaan, model bisnis yang terbukti dapat memberikan laba setinggi langit saat ini, belum tentu akan bertahan selamanya. Boleh percaya boleh tidak, maskapai penerbangan Merpati Nusantara pernah merajai industri penerbangan di Indonesia pada tahun 1990an. Dengan masuknya banyak pesaing, maskapai ini tidak mampu mempertahankan diri. Toko musik Aquarius sebagai jejaring toko kaset terbesar di Indonesia tak tahan mendapat gempuran pembajakan dan perkembangan teknologi yang memudahkan mengunduh lagu dari internet. Satu demi satu toko music Aquarius pun tutup.  Koran dan majalah semakin bertambah ragamnya, namun tiras tidak naik signifikan. Hampir tidak ada media cetak yang tidak didampingi oleh versi on-linenya yang tidak sama persis dan tidak hanya bersifat sebagai pelengkap. Selera dan kebutuhan konsumen memang bisa berubah, sehingga proposisi nilai perusahaan saat ini tidak  lagi dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Proposisi nilai itu harus diperbaiki atau bahkan diubah.

    Proposisi nilai dapat diberikan karena perusahaan memiliki sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang membuatnya mampu memberikan proposisi nilai sesuai diinginkan. Kombinasi sumber daya dan kegiatan-kegiatan serta budaya perusahaan akan membentuk kompetensi unik (distinctive competence) yang strategis, yang membuat produk kita dipilih oleh konsumen. Kompetensi unik itu sebaiknya sulit ditiru sehingga perusahaan dapat lebih lama menikmati manfaatnya. McDonald, jaringan makanan saji cepat yang berdiri di Amerika Serikat tahun 1940 mampu mempertahankan bahkan terus menumbuhkan bisnisnya karena konsistensi rasa, kualitas tampilan dan kualitas penyajian di lebih dari 33.000 outlet di 119 negara. McDonald juga tidak terasa membosankan karena dukungan inovasi menu. Sementara Bakmi GM menjaganya dengan tidak terlalu ekspansif dengan hanya 23 outlet di Jabodetabek dalam 50 tahun ini.

    Sebaik dan seunik apapun sumber proposisi nilai kita, mungkin saja pesaing dapat memiliki bahkan membangun kemampuan-kemampuan yang membuatnya mampu memberikan proposisi nilai yang jauh lebih baik (dan unik) dari perusahaan kita. Oleh sebab itu perusahaan perlu meninjau ulang sumber daya yang dimilikinya serta kegiatan-kegiatan atau proses-proses yang selama ini dijalani dengan penuh percaya diri. Jangan-jangan sumber daya kita tidak lagi distinctive, tidak unik dan tidak strategis.

    Memperbarui, meremajakan atau merombak sebuah model bisnis tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Riset yang mendalam terhadap konsumen serta studi mengenai trend lima bahkan sepuluh tahun mendatang perlu dilakukan. Sumber daya manusia perlu direkrut dan dilatih, sumber daya fisik perlu dicari dan diakuisisi, kegiatan-kegiatan perlu dikuasai dan budaya sebagai lahan berkembangnya model bisnis baru itu perlu dibangun dengan hati-hati. Formula laba yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang teknis dan otomatis, mungkin perlu dipelajari kembali.

    Perubahan model bisnis bisa bersifat renovasi atau perbaikan, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadinya transformasi yang menyebabkan bisnis inti perusahaan berubah. Misalnya perusahaan produsen minuman juice sehat menjadi perusahaan pengelola kafe. Sementara kelompok bisnis Modern yang dulu dikenal dengan kamera dan filmnya, kini lebih dikenal sebagai pemilik jaringan convenience store, 7Eleven di Indonesia. Pembaruan model bisnis juga dapat membuahkan bisnis-bisnis baru. Seperti produsen kosmetika membuka bisnis spa dan salon kecantikan.

    Untuk memperbarui sumber daya, kegiatan-kegiatan atau proses-proses perusahaan, kita tidak harus melakukannya sendiri. Bayangkan saja bagaimana kalau perusahaan hanya mampu menghasilkan produk kosmetika modern tanpa memiliki pemahaman yang mendalam mengenai konsep dan produk perawatan kecantikan tradisional. Kurva belajar bisa diperpendek dengan menggandeng mitra yang tepat. Mitra juga dapat membantu memperbaiki formula laba. Yang penting, segera evaluasi model bisnis perusahaan Anda dan lakukan perubahan-perubahan untuk menjaga agar perusahaan tetap relevan di jamannya dan sehat di segala cuaca.

    *Penulis saat ini adalah seorang Ketua Program Pasca Sarjana PPM School of Management.