• October  2014
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
      1 2 3 4 5
    6 7 8 9 10 11 12
    13 14 15 16 17 18 19
    20 21 22 23 24 25 26
    27 28 29 30 31  
  • Memanajemeni Proses Kelahiran Produk Baru

    Oleh Dr. Pepey Riawati Kurnia*
    Produk baru dapat dibedakan sebagai produk yang benar-benar baru (new-to-the-world products), dapat juga merupakan lini produk baru, atau tambahan untuk lini produk yang telah ada sebelumnya, dapat juga merupakan hasil dari proses pengembangan produk yang telah ada, atau produk yang merupakan buah repositioning atau dari cost reduction.

    Sungguh tidak sedikit biaya yang dikeluarkan perusahaan ketika melahirkan produk baru. Mimpinya produk tersebut akan membuahkan keuntungan jangka panjang. Namun, pasar sering berkehendak lain, dengan kejamnya pasar menenggelamkan produk tersebut dalam lembah kegagalan.

    Pasar yang dinamis dan sulit diprediksi ditengarai sebagai faktor yang membuat perjalanan produk baru tidak semulus yang dibayangkan, sehingga pemahaman yang baik dalam mengelola proses lahirnya produk baru diharapkan dapat memperbesar peluang kesuksesan sebuah produk ketika dilepas di pasar. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh pakar manajemen produk baru, Robert G Cooper, menunjukkan bahwa kelemahan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi dalam manajemen pengembangan produk baru menjadi salah satu penyebabnya. Riset lanjutan menyatakan bahwa produk yang superior dan memberikan manfaat yang unik, berbeda dengan produk yang telah ada sebelumnya, serta memberikan nilai tambah bagi pasar, merupakan penggerak kesuksesan sebuah produk baru.

    Sebuah pertanyaan yang menggelitik, apakah manajemen produk baru itu seni atau ilmu? Sebenarnya manajemen produk baru merupakan cabang dari ilmu pemasaran yang berkembang pesat sejalan dengan perkembangan inovasi dalam ranah bisnis. Selain ilmu, manajemen produk baru juga bisa disebut seni karena sesekali menggunakan intuisi dan pengalaman pribadi sang manajer. Jadi, manajemen produk baru bisa dikatakan merupakan kombinasi dari ilmu dan seni. Kombinasi keduanya saling melengkapi, dan mendukung keputusan lahirnya produk baru yang dapat diterima oleh pasar.

    Pengalaman pribadi penulis sebagai praktisi pemasaran yang bergelut dalam pengembangan produk sering kali harus menghadapi tuntutan agar segera meluncurkan produk baru ke pasar, tentunya agar tampil sebagai yang pertama masuk ke pasar.  Untuk mempercepat produk masuk ke pasar, akhirnya mengorbankan banyak tahapan proses pengembangan produk yang seharusnya dilakukan. Tidak dipungkiri lagi, dalam kondisi seperti ini intuisi sang pemilik perusahaan memegang peran penting, sehingga produk baru bisa segera diluncurkan, ironisnya karena mengejar lebih cepat ada di pasar, mengakibatkan tidak adanya perhitungan yang matang yang biasanya berujung pada kegagalan.

    Mengapa terjadi kecenderungan ini? Seperti yang diungkapkan McDonough III & Barczak, 1991; Kessler & Chakrabarti, 1996: “ speed kills the competition”. Percepatan pengembangan produk bisa menurunkan biaya inventory dari finished goods dan meningkatkan pangsa pasar. Namun, kita perlu berhati-hati, ada lima tipe hidden costs jika pengembangan produk tidak dilakukan dengan benar (Crawford, 1992). Lima tipe tersebut adalah rendahnya profit, kesalahan akan banyak terjadi, meningkatkan biaya sumberdaya manusia, terjadi inefisiensi karena dibawah tekanan waktu, dan kerusakan sumberdaya pendukung perusahaan yang kompleks. Oleh karenanya, memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan produk adalah sebuah keniscayaan.

    Tidak banyak institusi di Indonesia yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan seputar pengembangan produk. Untuk tingkat global saat ini ada asosiasi yang berdedikasi untuk memfasilitasi pengembangan produk terhadap pemerhati, praktisi maupun akademisi pemasaran yakni Product Development Management Association (PDMA) yang bermarkas di Amerika Serikat (www.pdma.org). PDMA sendiri telah berpengalaman selama lebih dari 30 tahun dalam proses pengembangan pengetahuan dan menyelenggrakan program sertifikasi internasional pengembangan produk baru. Saat ini PPM Manajemen telah menjadi  mitra PDMA.

    Pertanyaan selanjutnya, lalu siapa yang seharusnya memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang  manajemen pengembangan produk? Menilik struktur fungsional dalam organisasi di perusahaan, tentu mereka yang memgang peran sebagai Manajer Produk, Manajer Pemasaran dan Manajer Penelitian dan Pengembangan (Research and Development), adalah mereka yang seharusnya memiliki pengetahuan dan keterampilan memanajemeni proses lahirnya produk baru.

    Penulis memandang sudah saatnya semua fungsi dalam perusahaan di Indonesia memahami secara benar proses pengembangan produk sehingga memiliki daya saing termasuk dengan produk impor. Hal ini perlu dilakukan apabila kita menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 dan Kerja Sama Ekonomi Regional Terpadu (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang sudah di depan mata.prk/ndi/XII/12

    * Beliau adalah koordinator PDMA Indonesia