http://ppm-manajemen.ac.id/wp-content/themes/ppmCorporate
  • June  2016
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
      1 2 3 4 5
    6 7 8 9 10 11 12
    13 14 15 16 17 18 19
    20 21 22 23 24 25 26
    27 28 29 30  
  • PPM Manajemen menggelar Human Capital Forum Jakarta

    Dunia berubah begitu cepat. Teknologi, ekonomi, demografi, globalisasi, percepatan perubahannya tidak terduga. Siapa yang bisa membendungnya? Terlalu naïf jika kita berusaha menahan arus perubahan, yang bisa kita lakukan adalah ‘bersahabat’ dengan perubahan.

    Memasuki tahun 2016 ditandai dengan dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA membuka pintu bagi tenaga kerja masuk ke negara mana pun termasuk ke Indonesia.  Oleh karenanya para praktisi di bidang SDM harus berbenah dari waktu ke waktu mengikuti tuntutan yang berlaku seperti perubahan-perubahan pola dan bobot kerja yang dilakoni.

    Sebut saja divisi HR yang saban hari mengurusi sumber daya utama penggerak organisasi, yaitu karyawan. Bisa dibilang sudah tidak relevan kalau divisi HR hanya berkutat mengurusi absensi, remunerasi dan kawan-kawannya. Bertransformasi menjadi Divisi HC (Human Capital) dan menjelma menjadi sebuah divisi sebagai strategic partner organisasi sudah menjadi keharusan.

    Sesuai penyebutannya, Divisi HC harus memahami dunia bisnis, terlebih bisnis yang digeluti oleh perusahaannya. Tapi tak dapat dipungkiri, karyawan merupakan roda yang menjalankan perusahaan, keakuratan dalam me-maintain karyawan menjadi kunci keberhasilan perusahaan. Disitulah Divisi HC berperan strategis demi membentuk Competent People. Bila perusahaan dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan zaman, pun begitu juga dengan karyawannya yang harus siap sedia kapan saja diajak berlari menyongsong perubahan.

    Untuk mendiskusikan seputar perkembangan dunia HC yang harus bertransformasi menjadi sebuah divisi yang berperan strategis bagi keberlangsungan perusahaan. PPM Manajemen menggelar Human Capital (HC) Forum 2016. Sebut saja urusan rekrutmen dan seleksi, pengembangan karyawan, mengelola talenta berkualitas sampai mempertahankan karyawan unggul agar bisa bertahan, didiskusikan dan dipaparkan guna memberikan gambaran mengenai strategi yang perlu dilakukan praktisi SDM dalam acara yang digelar di PPM Manajemen, 07 April 2016.

    Sejatinya HC Forum 2016 akan digelar di tiga kota, diawali di Jakarta lalu disusul di Surabaya pada 19 April 2016, dilanjutkan di Makassar pada 03 Mei 2016. Dan rangkaian kegiatan HC Forum di tiga kota tersebut akan ditutup dengan Human Capital National Conference (HCNC) 2016 yang sedianya akan digelar di bulan September yang akan datang.

    HC Forum 2016 (Jakarta) kali ini mengangkat tema ReVamping Your Organization Through Human Capital Strategic Actions, dengan menghadirkan narasumber Ir. Rachmi Endrasprihatin, MM., ACP., CAC Senior HR Consultant PPM Manajemen dan Achmad Fahrozi, S.K.M., MM., CACCoordinator of PPM Center for Human Capital Development.

    Diskusi mengenai perlunya transformasi divisi HC menjadi divisi yang berperan strategis dianggap penting karena selain derasnya arus percepatan teknologi dan dibarengi kencangnya gelombang masuk para angkatan kerja dari negara-negara Asean, Indonesia juga berlebih angkatan kerja yang didominasi oleh mereka yang Generasi Y (Gen Y). “Jadi, memang sudah saatnya praktisi HC ini mentransformasi menjadi mitra strategik perusahaan” ujar Rachmi.

    Achmad Fahrozi menambahkan bahwa transformasi adalah proses yang sangat esensial, agar bisnis dapat bertahan di era yang sarat dengan perubahan. Pengelolaan Human Capital (HC) memegang peranan strategis dalam mendesain, membentuk dan mempercepat proses transformasi tersebut.

    Melalui Human Capital Forum ini PPM Manajemen berharap bisa menjadi wadah diskusi bagi para praktisi Human Capital untuk saling berbagi pengalaman dan gagasan. Dengan peserta yang hadir dari beragam sektor Industri, harapannya gagasan yang dihasilkan dapat menjadi isu yang sangat strategis bagi pengembangan Human Capital di Indonesia.

     

    PDMA Indonesia Academics Gathering: Business–University Collaboration (17/9)
    Di negara–negara maju, produk yang dihasilkan oleh suatu industri senantiasa berubah dari waktu ke waktu, dengan tujuan agar industri yang menghasilkan produk tersebut terus tumbuh dan berkelanjutan karena dianggap mampu menjawab kebutuhan pada zamannya. Di sini, riset dan pengembangan secara menerus merupakan satu–satunya cara untuk dapat menghasilkan produk baru yang mampu menjawab kebutuhan masa kini atau masa depan. Riset dan pengembangan tidak selalu harus dilakukan oleh perusahaan itu sendiri, melainkan dapat dilakukan dengan berkolaborasi dengan pihak ketiga seperti universitas atau perguruan tinggi. Sejalan dengan ini, hasil penelitian yang dilakukan oleh Julio A. Pertuze, et al. yang berjudul Best Practices for Industry-University Collaboration, menyebutkan bahwa kolaborasi universitas dan industri dapat melahirkan suatu pengetahuan baru yang nantinya dapat mendukung pengembangan produk baru. (more...)

    Connect The Experts: Ketika Akademisi Bertemu Pelaku Industri
    Dalam transfer teknologi, ada sebuah istilah yang cukup terkenal, yaitu “valley of death”. Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1995 untuk merujuk pada tantangan mentransfer teknologi pertanian ke negara-negara Dunia Ketiga (Markham et al., 2010). Pada perkembangan selanjutnya, istilah ini juga sering digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kesenjangan antara inovasi berbasis akademik dan aplikasi komersial di pasar. Jika menilik kondisi di Indonesia, “valley of death” dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain adalah sampai saat ini belum ada kolaborasi yang baik antara perguruan tinggi dan dunia usaha terkait pemanfaatan riset. Akibatnya, penelitian-penelitian di perguruan tinggi hanya tersimpan di rak perpustakaan. Padahal, pengembangan riset dan teknologi harus berdasarkan ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada dunia usaha. Bergerak dari latar belakang di atas, PDMA Indonesia sebagai asosiasi yang sangat peduli terhadap pengembangan produk berinisiatif mempertemukan pihak akademisi dengan para pelaku industri dalam acara CONNECT THE EXPERTS: “Bringing Research Products into Business” di Auditorium PPM Manajemen, Jakarta pada 18 Oktober 2015 yang lalu. Dihadirkan dalam kesempatan itu adalah tiga profesor atau doktor untuk mempresentasikan hasil penelitiannya masing-masing yang berupa pengembangan sebuah produk. Selain itu, acara ini juga diisi oleh dua praktisi yang berbagi mengenai kebutuhan industri yang ada saat ini. Sebut saja:
    • Prof.Dr.Ir.I Gede Wenten,M.Sc (ITB)
    • Prof.Dr.Ir.Slamet Budijanto,M.Agr. (IPB)
    • Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K) (UI)
    • Prof.Dr.Ir.Bernard T. Widjaja, MM (PT. Martina Berto Tbk)
    • Ir.Simon Jonatan (PT. Bintang Toedjoe)
    Harapan dari digelarnya ajang semacam ini adalah, akan ada hasil temuan dari profesor atau doktor yang hadir dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi sebuah produk yang siap jual di pasaran, serta sebagai wadah pelaku industri agar dapat berkolaborasi dengan para akademisi untuk mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan mereka. RIF/TOR/X/15 #PPMmanajemen

    PDMAI Connect The Experts, “Bringing Research Products into Business” (15 Okt 2015)
    Dalam transfer teknologi, ada sebuah istilah yang cukup terkenal, yaitu "valley of death". Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1995 untuk merujuk pada tantangan mentransfer teknologi pertanian ke negara-negara Dunia Ketiga (Markham et al., 2010). Pada perkembangan selanjutnya, istilah ini juga sering digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kesenjangan antara inovasi berbasis akademik dan aplikasi komersial di pasar. Jika menilik kondisi di Indonesia, "valley of death" dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sampai saat ini belum ada kolaborasi yang baik antara perguruan tinggi dan dunia usaha terkait pemanfaatan riset. Akibatnya, penelitian-penelitian di perguruan tinggi hanya tersimpan di rak perpustakaan. Padahal, pengembangan riset dan teknologi harus berdasarkan ilmu pengetahuan yang berimplikasi ke dunia usaha. Bergerak dari latar belakang di atas, PDMA Indonesia sebagai asosiasi yang sangat peduli terhadap pengembangan produk berencana untuk mempertemukan para akademisi dengan para pelaku industri dalam acara CONNECT THE EXPERTS: "Bringing Research Products into Business” di Auditorium PPM Manajemen, Jakarta pada 18 Oktober 2015. (more...)

    Hari Pelanggan Nasional di PPM Manajemen
    Hidup tidaklah sekadar hadir, pun pelanggan tidak sekedar hadir kemudian berlalu Bagi kami, pelanggan adalah bagian dari pertumbuhan perusahaan. Maka memahami pelanggan bukanlah pekerjaan musiman. Kerja keras ini berbuah manis, Dimana PPM manajemen selama 48 tahun selalu menjadi pilihan orang banyak dalam hal keilmuan manajemen. Kami pun tak lantas berbangga hati atas pencapaian ini, Berbenah diri lagi dan lagi terus dilakoni demi memuaskan pelanggan yang hasratnya kian hari kian beragam dan meningkat sesuai dengan kebutuhan dan harapannya. SENYUM PELANGGAN SENYUMKU JUGA Selamat Hari Pelanggan Nasional 4 September 2015 RIF/9/15