http://ppm-manajemen.ac.id/wp-content/themes/ppmCorporate
  • April  2015
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
      1 2 3 4 5
    6 7 8 9 10 11 12
    13 14 15 16 17 18 19
    20 21 22 23 24 25 26
    27 28 29 30  
  • CIC PPM Luncurkan Laporan Executive Summary Riset Tahun 2013
    Dokumen ini merupakan laporan pertama Center of Innovation and Collaboration PPM (untuk selanjutnya disingkat CIC PPM) kepada perusahaan-perusahaan di Indonesia yang telah berpartisipasi dalam riset CIC. Dokumen ini juga berguna pagi pelaku inovasi di perusahaan-perusahaan Indonesia sebagai informasi dan benchmarking data inovasi perusahaan di Indonesia. Tujuan dari riset ini adalah untuk memetakan tipe dan proses inovasi perusahaan-perusahaan Indonesia selama tiga tahun terakhir (2010-2012), yang diharapkan akan memotivasi perusahaan Indonesia berinovasi dalam rangka bersaing di kancah internasional. Riset ini diadaptasi dari Community Innovation Survey (yang dikembangkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) dan berupaya mengumpulkan data hasil dan proses inovasi yang dilakukan perusahaan Indonesia selama 3 tahun terakhir, yaitu tahun 2010 hingga 2012. OECD merupakan suatu forum khusus yang dibentuk oleh 30 negara demokrasi untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan-tantangan global terkait aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Download Executive Summary CIC 2013

    “Kejutan” PPM Manajemen di Hari Batik Nasional 2014
    Sebuah kebanggaan bagi Bangsa Indonesia dengan diakuinya batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 dan karena hal ini juga 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Mungkin belum banyak yang tahu asal muasal penamaan batik itu sendiri. Batik berasal dari Bahasa Jawa, yaitu "Amba" yang artinya menulis dan "Titik" yang artinya titik. Ragam batik di Indonesia cukup banyak jumlahnya dan hampir tiap daerah memiliki motif batik sendiri yang dipengaruhi kultur budaya setempat. Corak batik sendiri bisa digolongkan dalam 12 jenis seperti Batik Kraton, Batik Sudagaran, Batik Cuwiri, Batik Petani, Batik Tambal, Batik Sida Mukti, Batik Sekar Jagad, Batik Pringgodani, Batik Kawung, Batik Sida Luhur, Batik Sida Asih, dan Batik Semen Rama. Batik (tulis) sendiri memiliki makna filosofis, antara lain:
    • Depan belakang sama. Dalam bersikap sebaiknya sama seirama di depan maupun di belakang orang, tidak plin-plan.
    • Berbeda di setiap motif. Meski banyak perbedaan dalam kehidupan disikapi sebagai harmonisasi keindahan.
    • Bersifat eksklusif, tidak dapat dibuat sama persis. Sebagai ciptaanNya, masing-masing dari kita ini eksklusif. Tidak ada manusia yang sama persisi di dunia ini.
    • Di atas bahan apa pun, keutamaan indahnya terletak pada batiknya. Dibalut dengan seberapa pun banyaknya harta, taqwalah yang membuat manusia utama.
    • Membutuhkan waktu pembuatannya, tidak instan.  Menjadikan diri berkualitas tidak bisa instan, jam terbang seseorang tetap bernilai lebih.
    • Membanggakan jika dipakai. Keberadaan kita membanggakan bagi pasangan, anak, keluarga, dan teman.
    Memperingati Hari Batik Nasional, selain karyawan berpakaian batik, PPM Manajemen memberikan 'kejutan' berupa apresiasi bagi para peserta pelatihan lokakarya umum, ada 11 kelas, yang mengenakan batik hari itu. Mereka mendapat kupon yang dapat ditukarkan dengan paket berjumlah 6 buku terbitan PPM. Tentu saja kejutan yang menyenangkan bukan. Selamat hari batik!

    PDMA Indonesia Academics Gathering, “Sukses Lintas Generasi”
    Saat ini setidaknya terdapat empat kelompok generasi yang berbeda, yaitu Baby Boomer, Gen X, Gen Y, dan Gen Z. Keempat generasi tersebut hidup secara berdampingan dan saling berhubungan. Meskipun demikian, mereka mempunyai perbedaan dalam banyak hal, misalnya perbedaan selera, pilihan, nilai, dan harapan. Dalam Academics Gathering PDMA Indonesia yang dihelat di Executive Lounge PPM Manajemen Rabu 19 November 2014, Wahyu T. Setyobudi (Core Faculty PPM School of Management) memaparkan ‘persinggungan’ antara dua generasi pekerja pengisi perusahaan saat ini, yaitu Gen X dan Gen Y. Dimulai dengan adanya kesadaran dari masing-masing generasi bahwa telah berlaku perbedaaan, dilanjut dengan kesediaan untuk meleburnya generasi terdahulu (Gen X) dengan generasi saat ini Gen Y, karena tak dapat dipungkiri bahwa kedepannya tampuk perusahaan akan jatuh pada Generasi Y ini, diyakini sebagai salah satu solusi jitu bagi perusahaan agar bisa survive di masa mendatang. Dalam lingkup bisnis, Tunghadi Indra (Head of Nutrition Business Kalbe Nutritionals) di acara yang sama mengatakan, hal tersebut tentu saja menuntut perusahaan untuk memahami dan melakukan pendekatan yang berbeda dari tiap generasi yang ada. Oleh karena itu, produk yang dihasilkan oleh perusahaan pun diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan pada satu masa tertentu, namun lebih ke lintas generasi. Suatu hal yang perlu diingat adalah bahwa setiap inovasi produk harus selalu diarahkan kepada kebutuhan pelanggan. Inovasi tanpa memperhatikan kebutuhan pelanggan hanya akan mengakibatkan produk tersebut gagal ketika dipasarkan. Be fast, be melting and be different, atau anti mainstream bisa menjadi modal persaingan di jaman ini, sekiranya itu penutup dari Milawati Asshagab selaku moderator. RIF/XI/14

    PDMAI Academics Gathering: Sustainability & New Product Development
    Isu mengenai pembangunan yang berkelanjutan sejatinya berkembang dari gerakan dalam kajian-kajian tentang lingkungan pada beberapa dekade silam. Ide utama dalam kajian ini adalah bahwa secara memprihatinkan kualitas lingkungan hidup terdegradasi –salah satunya- karena kegiatan perusahaan di dunia. Para penggiat kajian lingkungan banyak menyoroti perilaku perusahaan yang pada saat itu dinilai hanya mementingkan profit dan mengabaikan risiko kerusakan lingkungan dari aktivitas mereka. Konsep-konsep “sustainability development” kemudian didorong oleh pemerintah dan LSM di berbagai negara untuk dilakukan segera. Dari sini lahirlah apa yang dikenal sebagai triple bottom line: profit, planet and people. Perusahaan-perusahaan kemudian mulai menerapkan prinsip-prinsip sustainability tersebut ke dalam kegiatan mereka. Akan tetapi, upaya perusahaan dalam penerapan sustainability sejauh ini masih belum cukup –kalau tidak bisa dikatakan buruk. Kalangan bisnis khawatir dengan implikasi negatif yang terjadi jika menerapkan prinsip sustainability tersebut ke dalam produk atau jasa yang mereka produksi. Pertanyaannya lalu adalah, apakah memang prinsip sustainability benar-benar membebani perusahaan? atau, sebaliknya, justru akan meningkatkan performa dan citra baik perusahaan itu sendiri? Hal itulah yang dibahas dalam PDMA Indonesia Academic Gathering "Sustainable and new product development: Will it improve your bottom line?" dengan pembicara Tri Wismiari (Dosen Universitas Bakrie) dan Sonny Sukada (Direktur Sustainable Development PT Danone Indonesia) di Executive Lounge PPM Manajemen pada 25 September lalu.

    Marketing To The Middle Class Moslem
    [caption id="attachment_5845" align="aligncenter" width="525"] (Foto: Mappesangka)[/caption] Pasar muslim menggeliat menjadi pasar yang besar di berbagai industri, seperti umroh, bank dan asuransi syariah, fesyen hijab, kosmetik halal, makanan halal, buku serta musik hingga hotel syariah. Jumat (11/7) berlaku  peluncuran buku berjudul Marketing to the Middle Class Muslim karya Yuswohady (pakar Marketing, Komunitas Memberi) sekaligus diskusi di Executive Lounge PPM Manajemen. Hadir sebagai pembahas yakni Samuel Pranata (direktur pemasaran Martha Tilaar Group/MTG), Thoriq Helmy (direktur Dompet Dhuafa), Diajeng Lestari (pendiri Hijaup.com), Wahyu Setyobudi (pakar pemasaran, PPM Manajemen), dengan dimoderatori oleh Mohammad Civic (konsultan bisnis syariah). Diskusi seru terjadi tentang  dinamika perubahan konsumen muslim di Tanah Air, khususnya kelas menengah yang memiliki knowledge dan daya beli tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir konsumen muslim berubah begitu cepat, sehingga menggoyahkan tatanan pasar di beberapa kategori produk yang sudah mapan sekian lama. Sulit dipungkiri pasar Muslim umumnya dan kelas menengah Muslim khususnya, memang amat penting di Indonesia. Bertumbuhnya nilai spiritual di kelas menengah Muslim ibarat wabah. Yuswohadi memprediksi, ketika spiritual dan etis menjadi nilai yang wajib bagi brand di semua kategori dan industri, “Kalau mayoritas sudah comply dengan Islamic values, sebuah brand akan dibenci kalau dia tidak comply. Hati-hati dengan ini, bagi pemilik brand”, kata Yuswohadi. Contoh pada industri kosmetika, di era 80-an kosmetika halal bukanlah preferensi penting bagi kaum perempuan, namun pada era ’90-an pasar ini mulai berubah. Kosmetik halal,  The Wardah effect  tiba-tiba Wardah mengambil pasar kosmetik konvensional. Direktur Marketing Sari Ayu Marta Tilaar, Samuel Pranata mengakui perubahan lanskap ini sempat membuat pihaknya sebagai pemimpin pasar kosmetik asli Indonesia waspada. Ia mengisahkan, sebenarnya sebelum Wardah menyeruak di pertengahan ’90-an, pihaknya sebenarnya telah memiliki merk khusus pasar Muslim, Amalia. Namun  sulit dipungkiri, Wardah lebih agresif berpromosi khususnya ke kelas menengah Muslim. Berubahnya Rumus Customer Value Customer value didefinisikan sebagai manfaat-manfaat didapatkan oleh konsumen (benefits) dibandingkan dengan biaya-biaya yang ia keluarkan (costs). Customer value akan tinggi jika sebuah merek memberikan manfaat yang tinggi dengan biaya yang rendah. Selama ini customer value hanya mengandung dua elemen, yaitu manfaat fungsional (functional benefits) dan manfaat emosional (emotional benefits), kini ditambah lagi dengan manfaat spiritual (spiritual benefits). Spiritual benefits adalah ketika konsumen mendapatkan ketenteraman jiwa ketika membeli sebuah produk halal. Selama ini produsen hanya peduli pada emosional dan functional benefit. Formula baru ini akan mengubah cara pandang kita, khususnya kepada kelas menengah Muslim. RIF/berbagai sumber/07/14