Think Digital, Think Global

Data-data kejayaan dan prestasi masa lalu dengan mudahnya usang begitu saja ketika perusahaan terlambat melangkah ataupun tidak berani melangkah.

Yanuar Andrianto
Odoo image and text block

 

Oleh: Yanuar Andrianto, M.M. MiniMBA Program Coordinator in ICT Business PPM School of Management


*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN Track No 118 Oktober 2017 p. 42

Laju pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Era 4.0 memberikan kemudahan aksesibilitas bagi perusahaan untuk melihat perubahan tren dan kondisi pertarungan bisnis. Era 4.0 acapkali dikenal dengan era digital merupakan sebuah era pertarungan  kreativitas dan inovasi tanpa batas melalui pemanfaatan TIK. Sumber daya kreativitas tak terbatas sebagaimana pada era-era sebelumnya yang berbasiskan sumber daya material. Keterbatasan sumber daya pada era digital hanya terbatas pada ketidakmampuan perusahaan menerjemahkan dan memenangkan peluang yang ada.


Memahami kondisi tersebut, perusahaan harus sadar akan persaingan di era digital yang menciptakan digital disruption, datangnya pemain baru di pasar akan sering muncul dari pemain yang menawarkan pilihan substitusi. Kita dapat melihat perang sedang terjadi saat ini di industri telekomunikasi dan transportasi. Bagaimana pelanggan yang bertahun-tahun setia, beralih pada aplikasi yang jauh lebih murah dan mampu menjawab kebutuhan gaya hidup digital.


Gojek, Uber, Facebook, WhatsApp, dan aplikasi sejenisnya telah memenangkan hati pelanggan dalam waktu yang terbilang singkat. Upaya kerja keras industri telekomunikasi dan transportasi membangun loyalitas pelanggannya semakin berat dengan adanya digital disruption.


Perusahaan tentunya sudah memahami berada di zaman yang berbeda. Perubahan zaman sejalan dengan perubahan perilaku pelanggan era digital. Data-data kejayaan dan prestasi masa lalu dengan mudahnya usang begitu saja ketika perusahaan terlambat melangkah ataupun tidak berani melangkah. Kepuasan dan loyalitas pelanggan tidak dapat lagi dijadikan rujukan utama untuk mempertahankan tradisi strategi konvensional yang dijalankan dalam menyenangkan hati pelanggan. Era ini cepat berubah, sebagaimana pola perilaku pelanggan yang konsisten loyal pada kreativitas, keunikan, dan tentu saja semakin kritis pada fitur serta kualitas barang/jasa yang ditawarkan.

Tone From The Top, Bukan Voice From The Top

Dilihat pada konteks Indonesia, perubahan perilaku masyarakat tidak lepas dengan perubahan dan pertumbuhan komposisi penduduk Indonesia yang beragam. Dalam 5-10 tahun ke depan, jumlah populasi Indonesia usia di bawah 30 tahun mencapai 55%, dan  sekitar 37% penduduk Indonesia adalah kelompok remaja dan anak-anak. Secara produktivitas, sekitar 51% persen penduduk sedang usia produktif bekerja (United Nations & BPS, 2012). Kondisi sudah sangat berbeda 5-10 tahun yang lalu yang artinya memberi sinyal akan adanya perubahan signifikan potret pasar Indonesia.


Perubahan gaya hidup pelanggan secara konvensional mengarah pada digital life style.  Tak terkecuali karyawan yang memiliki semangat perubahan, mereka turut serta hidup dalam suatu dunia yang  syarat dengan perang inovasi untuk memperebutkan piramida puncak. Dunia telah berubah dan menuntut perusahaan mampu memahami data dan informasi dengan tepat sehingga dapat memprediksi tren yang dihadapi dalam mencapai tujuan perusahaan.


Kita dapat belajar dari Wall-Mart, sebagai salah satu raksasa ritel dunia dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan kinerja penjualan mereka jatuh sejak awal tahun 2016 hingga triwulan 1 tahun 2017. Digital disruption mulai meruntuhkan strategi konvensional yang dijalankan dalam pertarungan pasar ritel. Wall-Mart mulai menyesuaikan diri dengan perubahan zaman melalui aksi akuisisi Jet.com senilai USD 3 Miliar. Dari hasil kinerja pembelian kanal online tersebut,  Wall-Mart mampu bangkit dan menghasilkan kontribusi pertumbuhan pendapatan YoY di atas 15% pada triwulan III 2017.


Apa yang dilakukan Wall-Mart tidak hanya sebatas aksi pembelian online shop dengan nilai yang fantastis. Pertarungan era digital harus dipahami oleh para pemimpin. Pada era ini, organisasi tidak membutuhkan pemimpin yang hanya mampu sebagai orator semata dalam menjalankan dan menyuarakan strategi digital (Voice from the top). Karyawan membutuhkan pemimpin yang berani mengambil risiko, memberikan arahan/dorongan yang clear, serta memberikan feedback dalam menjalankan strategi digital. Tone from the Top menjadi salah satu kunci penggerak dalam transformasi organisasi dalam menyesuaikan diri pada era digital. Karyawan menjadi lebih yakin dan percaya diri akan irama adaptasi yang dilakukan perusahaan dalam menjawab tantangan yang ada.

Digital Life: Digital Experiences  and Digital Process

Peran pemimpin menjadi penting dalam mendefinisikan posisi perusahaan dalam era digital sehingga strategi digital yang dirancang dan dijalankan perusahaan dengan mudah diterjemahkan oleh seluruh karyawan. Namun hal ini seringkali tidak didukung oleh kemampuan pemimpin dalam menafsirkan makna digital dalam perusahaan. Digital tidak terbatas pada output produk digital semata. Evolusi era digital harus dipahami para nakhoda perusahaan, bagaimana perusahaan mampu beradaptasi pada dua hal penting yaitu digitalisasi proses bisnis yang unggul (business process digitalization) disertai dengan memberikan pengalaman digital (digital experiences)  bagi pelanggan.


Memahami perilaku pelanggan di era digital harus dengan nyata. Kebiasaan over promise-under deliver layanan yang diberikan menjadi bumerang di era ini. Perusahaan harus mampu menjawab tantangan ini di luar logika keinginan pelanggan. Kekuatan besar inovasi teknologi dan banyaknya ragam pilihan membentuk perilaku pelanggan yang gampang berpindah ke lain produk. Proses bisnis yang sederhana (simplicity) dan dapat diakses di mana saja menjadi pilihan pelanggan dengan gaya hidup digitalnya. Proses ini tentu saja berbasis teknologi ICT. Adanya modernisasi proses bisnis berbasis digital akan membantu perusahaan mengubah diri dan menyesuaikan dengan kompetisi yang semakin hypercompetitives.


Digital experiences adalah suatu pengalaman yang dirasakan pelanggan setelah mendayagunakan produk perusahaan berbasis pelayanan teknologi digital. Pengalaman ini sangat ditunjang oleh digitalisiasi proses bisnis yang ada. Melalui inovasi dan kreativitas dalam menyampaikan pelayanan yang unggul berbasis teknologi digital, pelanggan dengan nyaman menikmati fasilitas dan fitur digital produk perusahaan.


Pemimpin harus memahami kesiapan dan bagaimana perusahaan melangkah pada era ini. Melalui keberanian keluar dari zona aman posisi pemimpin, pemimpin harus memahami potret perusahaan saat  ini dalam tekanan arus digital disruption dan kemana akan melangkah bersama strategi digital. Hal ini tentu saja tidak mudah, apalagi perusahaan yang sudah terbiasa menetapkan strategi untuk digunakan selama satu tahun kedepan atau lebih. Perlu keberanian pemimpin mengawal dan memberikan feedback dalam setiap program yang dirancang.


Leave a comment

You must be logged in to post a comment.