Sekoci Penyelamat

Kapan sekoci penyelamat itu akan kita bangun? Tidak ada suatu aturan atau teori mana pun yang akan menyebutkan bahwa sekoci penyelamat harus kita bangun saat kapal akan tenggelam, ataupun saat kapal sedang berlabuh.

Alphieza Syam
Odoo image and text block

Oleh: Alphieza Syam - Head of Research and Consulting Services Division PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN Track No. 116 Agustus-September 2017 p. 26
 

Alkisah terdapat sebuah pulau yang diisi oleh satu desa, lengkap dengan penduduk dan perangkat pemerintahan desanya. Mata pencaharian penduduk desa tersebut pada umumnya berasal dari kegiatan bercocok tanam ataupun menangkap ikan. Berbeda dengan penduduk desa pada umumnya, hidup pula suatu keluarga, sebut saja keluarga Pak Belalang, yang menjadikan kegiatan berdagang berbagai kebutuhan sehari-hari dengan mendirikan sebuah toko sebagai mata pencahariannya. Sejak desa tersebut berdiri dan didiami oleh warganya, toko Pak Belalang -lah satu-satunya tempat di mana seluruh warga desa dapat membeli berbagai kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari bahan pangan, pakaian, kebutuhan rumah, alat dan bahan pertanian dan penangkapan ikan, kebutuhan sekolah, dan berbagai kebutuhan lainnya. Praktis dengan kondisi seperti itu dapat kita sebut bahwa Pak Belalang dengan tokonya telah me"monopoli" pasar kebutuhan sehari-hari desa tersebut.

Waktu pun terus berganti, hingga pada suatu satu-dua tetangga satu desa Pak Belalang juga tergiur mengubah mata pencahariannya, dari bercocok tanam atau menangkap ikan beralih ke berdagang dengan membuka toko. Ada yang berdagang bahan pangan dan pakaian, dan ada pula yang berdagang alat dan bahan pertanian dan penangkapan ikan. Sedikit demi sedikit pelanggan setia toko Pak Belalang pun beralih ke toko-toko baru tersebut. Kondisi pasar kini sudah tidak lagi monopolistik, dan bulan madu usaha Pak Belalang pun berakhir.

Bila kita lanjutkan cerita tersebut dengan pertanyaan; apa yang harus dilakukan Pak Belalang untuk mempertahankan keberlanjutan usahanya? Agaknya kita pun tidak sepakat bila yang harus dilakukan oleh Pak Belalang adalah melakukan aksi unjuk rasa, ataupun lobi-lobi politis tingkat desa kepada perangkat pemerintahan desa tersebut, hingga kepala desa dapat mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan usaha Pak Belalang secara sepihak. Bukan pula dengan tindakan menebarkan ancaman teror kepada pemilik toko-toko yang baru berdiri tersebut.

Upaya yang paling bijak yang dapat dilakukan oleh Pak Belalang adalah dengan menciptakan keunggulan-keunggulan kompetitif bagi tokonya. Menciptakan keunggulan dan keunikan dari produk dan layanannya, entah berupa produk yang memang benar-benar berbeda dari para pesaingnya kini, ataupun dengan keunggulan atas harganya yang sangat terjangkau. Selain dengan menciptakan keunggulan-keunggulan tadi, yang juga dapat dilakukan oleh Pak Belalang adalah berkreasi dan berinovasi menciptakan sumber pendapatan baru. Sehingga bila terjadi penurunan dari hasil usahanya akibat persaingan, maka dapur keluarga Pak Belalang pun masih tetap berasap karena adanya sumber pendapatan lain hasil daya kreatif dan inovasinya.

Cerita tentang Pak Belalang dan desanya tersebut memang kisah fiktif belaka. Namun demikian agaknya ada beberapa hal yang menarik untuk kita refleksikan ke dalam praktik organisasi kita sehari-hari. Pertama, yang harus kita lakukan adalah terus menciptakan keunggulan baru, dan bukan mencoba mengubah lingkungan eksternal yang kendalinya pun tidak kita pegang. Kedua, bahwa dalam keadaan lingkungan yang tenang dan nyaman sekalipun, upaya inovasi di dalam organisasi tidak boleh padam. Terlena dalam kenyamanan lingkungan yang bersahabat dapat saja mengantarkan kita ke kondisi yang tidak produktif, apalagi bila dikaitkan dengan karakteristik lingkungan saat ini yang sarat dengan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).


Gelaran Anugerah BUMN 2017 yang baru saja terlaksana setidaknya telah menjadi suatu ajang yang memberikan indikasi bahwa telah banyak BUMN kita (beserta anak-anak usahanya) yang sadar akan tantangan lingkungan eksternal tersebut. Pun demikian, banyak pula di antara mereka yang telah memulai langkah-langkah inovasi demi terwujudnya proses transformasi yang akan membawa mereka dapat tumbuh dan bernilai tambah secara berkelanjutan.

Sebut saja Perum PERURI. Berbagai penugasan yang diberikan oleh pemerintah, seperti mencetak alat pembayaran fisik, meterai, serta dokumen-dokumen legal bermuatan fitur keamanan yang tinggi tampaknya tidak membuat PERURI terlena dan berdiam diri. Isu-isu atas tren cashless society, crypto-currency, e-document dan berbagai dampak kemajuan teknologi lainnya, yang sebenarnya sudah di depan mata tetapi belum sepenuhnya menjadi kenyataan, justru tidak sedikit pun menghentikan langkah organisasi berinovasi dengan membangun berbagai lini bisnis baru yang memanfaatkan isu atas tren tersebut. Sekoci-sekoci penyelamat berupa lini-lini bisnis baru tersebut justru diciptakan pada saat-saat di mana riak-riak gelombang perubahan lingkungan eksternal belum terlalu dirasakan. Sekoci-sekoci tersebut justru diciptakan saat samudera yang mereka arungi masih cukup tenang dan bersahabat.

Selain PERURI, sejumlah anak usaha BUMN yang juga turut berpartisipasi dalam gelaran Anugerah BUMN 2017 ini pun menunjukkan suatu indikasi bahwa mereka telah lama dipersiapkan oleh induknya masing-masing untuk tidak hanya memberikan dukungan bagi bisnis sang induk, tetapi juga menjadi sekoci penyelamat keluarga (kelompok perusahaan) di tengah tantangan lingkungan eksternal yang serba tidak pasti dan semakin kompleks.

Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang telah memulai langkah-langkah strategis untuk berinovasi dan mengembangkan sejumlah usaha barunya merupakan salah satu contoh betapa tantangan persaingan usaha dan perlambatan petumbuhan di sektor yang digeluti induknya telah memacu mereka untuk terus berinovasi, dan berjuang untuk menjadi sekoci penyelamat bagi mereka sendiri dan keluarga besar PERTAMINA. Begitu pula dengan sang saudara kandung; Pertamina Lubricants, yang juga terus berinovasi bahkan di tengah samudera industri pelumas yang juga tidak kalah keras aroma kompetisinya.

Di keluarga Perusahaan Gas Negara (PGN), ada PGAS Telekomunikasi Nusantara, anak yang dilahirkan untuk mengemban amanah untuk mendukung berbagai proses bisnis sang induk melalui kompetensi teknologi informasi dan komunikasinya. Amanah tersebut lebih lanjut dimaknai oleh PGAS Telekomunikasi Nusantara untuk tidak hanya hadir sebagai pendukung bisnis induknya. Amanah tersebut lebih lanjut dimaknai sebagai amanah transformasi untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan PGN serta menjadi sekoci penyelamat di tengah samudera yang akan diarungi oleh keluarga besar PGN.

Baik Pak Belalang, tokoh fiktif kita di cerita awal tulisan, ataupun organisasi-organisasi entitas usaha seperti BUMN, memiliki sekoci penyelamat atau tidak adalah suatu pilihan. Dan bila keberlanjutan usaha dan pertumbuhan nilai perusahaan yang menjadi kehendak utama, maka memiliki sekoci penyelamat adalah suatu keniscayaan.


Kapan sekoci penyelamat itu akan kita bangun? Tidak ada suatu aturan atau teori mana pun yang akan menyebutkan bahwa sekoci penyelamat harus kita bangun saat kapal akan tenggelam, ataupun saat kapal sedang berlabuh. Namun demikian, tampaknya di dunia yang dipenuhi dengan dinamika VUCA ini, membangun sekoci penyelamat saat gejolak arus samudera belum terlalu mengancam gerak laju kapal tentunya akan menjadi pilihan bijaksana. Seperti kata pepatah latin yang juga dikutip oleh George Washington dan Sun Tzu; Si vis pacem para bellum atau In a time of peace, prepare for war.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.