Risk Management in the Indonesia’s Aviation Industry

Due to the hig risk faced by companies working in aviation industry, a formulation of systematical risk management to maintain the existence and to reach the sustainability level is needed.

PPM Manajemen3
Text and image block


 

Oleh : Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRM
           Faculty Member PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No . 52 Tahun V, 27 Feb - 5 Mar 2017 p. 82

Pada akhir Desember 2016, masyarakat dikejutkan dengan kasus pilot salah satu maskapai penerbangan di Indonesia yang diduga mabuk sebelum lepas landas.  Dia bicara melantur dan berjalan sempoyongan. Sontak, penumpang pun protes keras sehingga pihak maskapai akhirnya mengganti pilot tersebut.  Kasus ini kemudian viral di media sosial. Tak hanya diganti saat itu juga, pilot tersebut akhirnya dipecat dari maskapai penerbangan terkait.

Dari penggalan kisah di atas, kita dapat memerhatikan bahwa maskapai penerbangan menerapkan peraturan yang cukup tegas.  Hal ini dapat dimaklumi, mengingat bahwa industri aviasi memang salah satu industri dengan tingkat risiko yang tinggi (Mbaskool, 2015).

Salah satu risiko yang sulit untuk diprediksi dan diatasi adalah keselamatan penumpang.  Wajar saja jika  maskapai penerbangan menerapkan peraturan ketat terhadap pilot karena pilotlah pemegang tanggung jawab terbesar keselamatan armada penerbangan selama mengudara. Tak hanya terkait keselamatan penumpang,  risiko dalam industri aviasi memang sangat tinggi bagi keberlangsungan maskapai penerbangan. Ini lantaran  profitabilitas industri yang rendah (Mbaskool, 2015).

Risiko adalah segala ketidakpastian dan kemungkinan yang meliputi kejadian masa yang akan datang atau hasil dari kejadian saat ini serta memiliki kemungkinan terjadi atau tidak dan memiliki dampak yang bervariasi (Berg, 2010).  Risiko akan selalu melekat pada kegiatan apapun yang dikerjakan, bahkan ketika tidak melakukan apa pun, tidak pula terlepas dari risiko yang tidak terduga (Susilo & Kaho, 2010).

Mengingat sifatnya yang melekat tersebut, manajemen risiko dibutuhkan sebagai suatu proses atau pendekatan yang sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis risiko, menilai, dan menanggulangi risiko, serta memetakan risiko yang telah diteliti (Purba, 2011).  Berdasarkan tingginya risiko yang dihadapi oleh industri aviasi, maka dapat disimpulkan bahwa diperlukan suatu sistematisasi formulasi manajemen risiko untuk mempertahankan eksistensi dan mencapai level sustainability suatu perusahaan.

Hal pertama yang dapat dilakukan maskapai penerbangan dalam menyusun manajemen risiko korporat terintegrasi (MRKT) yang sesuai adalah dengan menganalisis kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) serta kondisi eksternal (peluang dan ancaman) bagi perusahaan.  Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah melakukan benchmark/acuan terhadap perusahaan sejenis di Indonesia atau di regional Asia Tenggara.

Hasil analisis internal dan eksternal ini kemudian dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan konteks atau tujuan dari MRKT perusahaan.  Selanjutnya, perusahaan dapat melakukan penilaian risiko dengan cara menentukan tingkatan probabilitas dan dampak dari masing-masing kejadian risiko yang teridentifikasi.  Hasil dari penelitian ini kemudian menjadi peta risiko bagi seluruh kejadian risiko pada perusahaan dan selanjutnya akan menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan mitigasi risiko yang tepat bagi tiap-tiap kejadian risiko.

Kejadian risiko yang cukup krusial bagi perusahaan di industri aviasi adalah fluktuasi harga avtur (Mariana, 2017).  Sebab, avtur merupakan komponen utama penerbangan dan memakan biaya hingga 45% dari total biaya operasional pada maskapai penerbangan.

Selain itu, suku cadang dan perawatan bagi pesawat di Indonesia pun masih terbatas, hingga pengeluaran maskapai penerbangan 70% berdenominasi mata uang dolar Amerika, sedangkan 100% pemasukan berdenominasi mata uang rupiah (Mariana, 2017).  Dengan kata lain, fluktuasi nilai tukar mata uang asing dengan Rupiah pun menjadi kejadian risiko lainnya yang krusial bagi perusahaan di industri aviasi.

Untuk kedua kejadian risiko tersebut, kebijakan mitigasi yang dapat diterapkan di antaranya adalah dengan aksi lindung nilai (hedging), bentuknya bisa berupa perjanjian fuel call option dengan perusahaan pemasok avtur untuk memitigasi risiko fluktuasi harga avtur dan perjanjian swap mata uang dengan bank untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar mata uang.

Lalu, apakah dengan menerapkan MRKT dapat meningkatkan profitabilitas industri aviasi dan tingkat keselamatan penumpang di Indonesia?  Belum tentu, tetapi minimal maskapai penerbangan dapat sadar sepenuhnya akan potensi-potensi yang memungkinkan terjadinya kerugian atau bahkan memungkinkan keuntungan bagi perusahaan.

Sebagai penutup, mari kita resapi kutipan dari Gary Cohn berikut, "If you don’t invest in risk management, It doesn’t matter what business you’re in, it’s a risky business”.





Leave a comment

You must be logged in to post a comment.