Menangani Karyawan Narsistis

Mereka tidak sungkan untuk mengumbar kehebatan mereka dalam berbagai kesempatan demi mendapatkan pengakuan dan menjadi pusat perhatian

Maharsi Anindyajati
Odoo image and text block

 

Oleh: Maharsi Anindyajati, M.Psi.Psikolog, Consultant & Trainer, Executive Development Services | PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 32 Th VI, 09-15 Okt 2017 p. 82

Narsis. Kata ini mungkin sering kita gunakan atau dengar, apalagi sejak merebaknya media sosial (medsos). Kita sering menggunakan kata ini untuk menggambarkan orang yang gemar berswafoto, berfoto dalam setiap aktivitas yang dilakukannya, dan kerap mengunggah foto-foto diri di media sosial.

Akan tetapi, apakah pengertian narsis hanya seperti itu? Sebenarnya, apa arti narsis? Apakah sikap narsis ini dapat berpengaruh dalam pekerjaan individu yang bersangkutan? Bagaimana menanganinya?

Istilah narsis ini pertama kali digunakan oleh tokoh psikoanalis Sigmund Freud yang diambil dari salah satu tokoh mitologi Yunani, yaitu Narcissus. Narcissus adalah seseorang yang tampan, sombong, dan sangat mencintai dirinya sendiri.

Dalam ranah psikologi, narsisme adalah sebuah spektrum gangguan yang merupakan kontinum, mulai dari terdapatnya sedikit karakter narsistik pada diri seseorang hingga gangguan kepribadian. Tentu masih dapat dikatakan normal jika kita memiliki beberapa ciri narsisme di ujung spektrum yang rendah. Namun, semakin bergeser ke arah spektrum yang lebih tinggi, semakin banyak masalah yang akan dihadapi.

Dalam kondisi spektrum tinggi, narsisme akan bersifat maladaptif, mengganggu lingkungan sekitar, serta terganggunya fungsi diri, baik dalam bekerja maupun interaksi sosial sehingga dapat dikategorikan sebagai sebuah gangguan kepribadian. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), gangguan ini disebut sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Orang dengan kepribadian narsistis menilai dirinya sebagai seseorang yang spesial. Kemudian, orang tersebut akan menganggap bahwa jarang ada orang yang sekompeten, sepenting, sehebat, atau semenarik dirinya. Mereka tidak sungkan untuk mengumbar kehebatan mereka dalam berbagai kesempatan demi mendapatkan pengakuan dan menjadi pusat perhatian.

Dalam berinteraksi, mereka cenderung manipulatif atau mengambil keuntungan dari orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka tidak ragu untuk mengklaim sebuah keberhasilan sebagai pencapaian mereka walaupun itu adalah jerih payah orang lain. Meski butuh dihargai, mereka tidak dapat berperilaku sebaliknya, yaitu menghargai orang lain.

Orang-orang yang teperdaya oleh mereka adalah sasaran yang tepat untuk menjadi kambing hitam. Seringkali beberapa “korban” tidak berani melawan karena para narsis ini bersikap kejam dan mengancam dengan menggunakan hal yang ditakuti oleh korban untuk mengontrol korbannya.

Mereka juga akan senantiasa menciptakan “drama” dimana mereka menjadi pusat perhatian. Intinya, mereka butuh merasa lebih dibandingkan orang lain.

Jadi, orientasi mereka searah saja, lebih ke diri mereka sendiri. Mereka tidak peka terhadap kebutuhan  atau perasaan orang lain. Mudah merasa iri dan merasa bahwa banyak orang yang iri terhadap dirinya. Mereka tampil sebagai sosok yang tinggi hati dan angkuh, serta hanya mau bergaul dengan kelompok orang yang dinilai setara dengan dirinya.  

Lalu bagaimana jika terdapat karyawan dengan kepribadian narsistik di lingkungan kerja kita? Bagaimana menyikapinya?

Pertama, asahlah radar narsisme Anda. Anda harus memiliki kepekaan untuk mendeteksi orang-orang berkepribadian narsisme di sekitar Anda. Para narsis pada awalnya bersikap baik, mencoba menjalin relasi dengan banyak orang agar dapat mencari mana saja orang-orang yang dapat mereka manfaatkan di kemudian hari. Nantinya, mereka cenderung tidak mau mengakui kesalahan mereka dan selalu menimpakannya kepada orang lain.

Selain mengasah radar, Anda juga harus mengenali betul diri Anda. Apakah Anda tipe orang yang sulit mengatakan tidak, mudah percaya kepada orang lain, selalu mencoba menolong orang lain, sering mengalah, dan mengakomodasi orang lain? Jika ya, Anda harus lebih berhati-hati, karena para narsis mengincar orang-orang dengan sifat seperti itu untuk dimanipulasi dan dijadikan korban.

Apabila Anda sudah terlanjur menjadi korban, Anda harus meyakini bahwa yang bermasalah adalah si narsis itu, bukan Anda. Carilah dukungan dari teman-teman kerja lainnya dan batasi interaksi dengan para narsis.

Kedua, buatlah catatan detail. Jika Anda berhadapan langsung dengan para narsis, sulit untuk berkonfrontasi atau berargumen secara santun. Mereka akan mencoba menghilangkan apa yang mereka rasakan sebagai ancaman tanpa ampun. 

Ketiga, jika Anda memiliki kewenangan, maka bangunlah tim kerja yang kohesif. Dalam latar kelompok, perilaku berlebihan yang ditampilkan oleh karyawan narsis akan mudah diidentifikasi, dikendalikan, dibahas, dan juga tidak diterima karena bertentangan secara normatif.

Kelompok akan menjadi semacam penegak hukum agar mereka lebih mau mendengarkan dan berempati terhadap orang lain. Kelompok juga dapat memberikan masukan atau umpan balik.

Ciptakan juga suasana yang menyenangkan dalam kelompok. Hal ini akan membantu karyawan narsis untuk membangun kepercayaan, menerima masukan, dan meningkatkan kesadaran dirinya. Kelompok juga akan lebih mudah untuk secara konstruktif menghadapi perilaku bermasalah seraya memberitahu perilaku apa saja yang tidak benar dan tidak diterima.

Memang berhadapan dengan para narsis bukanlah perkara mudah, diperlukan berbagai upaya dan kesabaran. Hal yang perlu diwaspadai, terutama oleh manajemen, adalah adanya orang lain yang justru mengundurkan diri sebagai akibat menjadi korban atau tidak tahan untuk menangani para narsis ini.


Leave a comment

You must be logged in to post a comment.