Membentuk Tim Peramal dalam Rantai Pasok

Langkah awal yang bisa diterapkan di dalam rantai pasok adalah menyusun tim forecasting lintas entitas.

Tersebutlah sebuah situasi, seorang manajer toko ponsel mengeluhkan sulitnya memenuhi permintaan  end user. Pasalnya, jenis ponsel yang dikirimkan distributor seringkali tak cocok dengan minat  end user  dan tren saat itu. Kiriman distributor pun seringkali berbeda dengan pesanan sang manajer. Usut punya usut, toko dan distributor punya pandangan berbeda soal ponsel mana yang laku pada masa tertentu. 

Kebetulan, distributor ini juga “bersaudara” dengan sebuah peritel gawai lain yang lebih besar.  Forecast  distributor berkata, kemungkinan  end user  yang mencari ponsel  fast moving  di ritel “saudara” lebih besar ketimbang di toko tadi. Tak ayal, lebih banyak ponsel  slow moving  yang diterima oleh sang manajer toko. 

Boleh jadi distributor merasa paling tahu tentang pasarnya. Toko juga merasa paling tahu tentang pasarnya. Meski hal ini ada benarnya, tapi alangkah indahnya bila distributor dan toko berjalan berdampingan. Yang ada dari situasi di atas adalah distributor dan toko sama-sama tak terpikir bahwa keduanya bisa menyusun  forecast  bersama dalam satu tim. 

Ada telaah perihal bahwa sebuah tim mampu menghasilkan  forecast  yang akurat ketimbang individu yang baru-baru ini diuji oleh dua profesor dari University of Pennsylvania, melalui suatu penelitian selama 2011-2015. Alih-alih bermetode kuesioner atau wawancara, penelitian unik ini justru berbentuk turnamen peramalan yang mengadu 25.000 peramal, mulai dari pemula hingga analis intelijen. Pesertanya adalah perorangan maupun tim, mereka diminta meramalkan berbagai kejadian ekonomi dan geopolitik penting di dunia. 

Turnamen berjuluk  Good Judgement Project  ini menghasilkan tiga(3) temuan. Pertama, tim yang dikelola dengan baik dapat mem-forecast  lebih baik daripada individu. Kedua, kemampuan mengambil keputusan dapat ditingkatkan melalui pelatihan yang dirancang dengan seksama. Ketiga, generalis berbakat kerapkali mem-forecast  lebih baik daripada spesialis. 

Artinya, untuk membentuk tim peramalan yang bisa diandalkan, dibutuhkan keragaman wawasan dan ilmu. Dalam konteks perusahaan, tim ini akan membutuhkan sekurang-kurangnya 1 orang spesialis, misalnya spesialis bidang keuangan. Anggota generalis juga dibutuhkan, khususnya orang yang tak mudah kecil hati berhadapan dengan spesialis tingkat  expert . Terbukti, ramalan para generalis seringkali lebih baik daripada para spesialis. 

Terinspirasi hasil penelitian  Good Judgement Project, langkah awal yang bisa diterapkan di dalam rantai pasok adalah menyusun tim  forecasting  lintas entitas. Ritel dapat duduk bersama distributor bahkan manufaktur dan pemasok jika memungkinkan, ini untuk menghasilkan  forecasting  yang akurat. Informasi unik dari tiap entitas, misalnya penerapan tentang situasi-situasi eksternal yang mudah berubah, akan meningkatkan objektivitas peramalan. 

Ritel ponsel contohnya, bisa menginformasikan tren dan minat  end user  secara empiris pada distributor, manufaktur, dan entitas lainnya dalam satu rantai. Entitas yang terlibat bisa mengevaluasi asumsi satu sama lain. Maka bias dalam peramalan akan berkurang. 

Forecast  yang kuat tentu berdasar pada data. Nyatanya, sebagian besar entitas dalam rantai pasok lebih suka merahasiakan data karena tak saling percaya bahwa tiap entitas dapat menghormati kerahasiaan data masing-masing. Rendahnya kepercayaan ini terus menjadi kendala, sementara kebutuhan untuk bersinergi dalam banyak hal termasuk  forecasting  sesungguhnya kian mendesak. 

Rosa Sekar Mangalandum

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.