Manajemen Risiko: Generik atau Spesifik?

Untuk mengamankan pencapaian tujuan, upaya yang dapat kita lakukan adalah mencegah, menanggulangi atau menyusun rencana untuk menerima.

Christy Dwita Mariana
Odoo image and text block

 

Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMOFaculty Member of PPM School of Management


*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 35 tahun VI, 30 Okt-05 Nov 2017, p. 82

Ketidakpastian adalah hal yang wajar dalam suatu bisnis. Tentu ada ketidakpastian yang bersifat menguntungkan bagi pencapaian tujuan, tetapi bisa saja sebaliknya. Hal inilah yang disebut sebagai konsep dasar risiko.  Untuk mengamankan pencapaian tujuan tersebut, upaya yang dapat kita lakukan adalah mencegah, menanggulangi atau menyusun rencana untuk menerima. Namun, tetap saja kita perlu mengelola risiko-risiko tersebut.

Dalam pengelolaan risiko, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali risiko itu sendiri. Caranya dengan memahami tujuan yang ingin dicapai. Bagi perusahaan, key performance indicator (KPI) dapat dijadikan tujuan, Biasanya, KPI paling umum adalah tujuan yang diukur dengan nilai uang (contohnya kenaikan penjualan yang ditargetkan atau anggaran yang dikeluarkan).

Berdasarkan karakteristik dasarnya, risiko dapat dikategorikan menjadi risiko murni (risiko yang mengakibatkan kerugian pada organisasi atau individu yang dapat diukur secara fisik) dan risiko spekulatif (risiko yang dapat merugikan atau menguntungkan organisasi, terjadi sebagai hasil perbuatan manusia).

Dalam rangka pencapaian KPI organisasi, tentunya perusahaan akan menyusun proses bisnis yang sesuai.  Sebagai contoh, apabila tujuan organisasi adalah meningkatkan penjualan 10% dari tahun sebelumnya, proses bisnis yang dilakukan adalah meningkatkan volume produksi. Artinya, perusahaan meningkatkan volume penjualan dengan cara meningkatkan kegiatan promosi dan proses bisnis lainnya yang berkaitan.  Pada saat proses bisnis dijalankan, ada hal-hal yang dapat atau tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.  Hal-hal inilah yang dapat diidentifikasi sebagai risiko perusahaan, kemudian dikategorikan menjadi risiko-risiko operasional atau finansial.

Setelahnya, kita dapat mulai menerapkan proses manajemen risiko, yaitu yang dimulai dari identifikasi risiko, pengukuran risiko, evaluasi/pemetaan risiko, penentuan perlakuan/respon risiko, serta penentuan metode untuk pemantauan risiko dan pelaporan.  Keseluruhan proses ini berjalan secara sinambung sehingga tidak secara khusus diterapkan hanya untuk satu proyek atau fase pada bisnis dari perusahaan saja.

Apabila manajemen risiko hanya diterapkan pada salah satu divisi di perusahaan, tentunya KPI yang dituju hanyalah KPI dari divisi itu saja.  Lain halnya apabila manajemen risiko telah diterapkan pada keseluruhan perusahaan, KPI dan cara pandang mengenai proses bisnis pun haruslah diterapkan sesuai untuk pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan.

Konsep manajemen risiko berlaku secara umum dalam perilaku keseharian.  Kita dapat mengenali risiko-risiko yang teridentifikasi dari langkah-langkah pencapaian tujuan.  Sebagai contoh, untuk dapat membeli mobil pada enam bulan ke depan, Anda telah menetapkan untuk bekerja lembur selama enam bulan ke depan.  Kemungkinannya, Anda dapat tiba-tiba jatuh sakit sehingga tidak memungkinkan untuk meneruskan lembur, bahkan perlu mengeluarkan biaya lebih untuk perawatan selama dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, Anda pun menetapkan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap prima dengan makan makanan yang sehat serta olahraga secara teratur.  Selain itu, Anda pun senantiasa melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan secara rutin untuk mendukung kegiatan lembur yang direncanakan.

Lalu, apakah manajemen risiko bersifat umum atau spesifik? Terdapat hal-hal yang bersifat umum, tetapi ada pula yang spesifik pada penerapan manajemen risiko, baik terhadap individu maupun organisasi.  Langkah-langkah penerapan manajemen risiko yang sifatnya umum akan selalu dimulai dari penetapan tujuan beserta proses bisnis untuk mencapainya. Kemudian, proses tersebut dilanjutkan dengan identifikasi risiko hingga pemantauan risiko yang bersifat sinambung.

Akan tetapi, tujuan organisasi atau individu tentunya akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Begitu pula proses bisnis atau strategi untuk mencapainya.  Pada saat itulah manajemen risiko akan bersifat spesifik, bergantung dari sifat individu atau organisasi yang akan menerapkannya.  Organisasi yang berwatak risk taker, tentunya akan memiliki strategi-strategi yang berbeda dengan organisasi yang berwatak risk avoider.  

Hal utama yang perlu disikapi dalam penerapan manajemen risiko adalah senantiasa menangani risiko dari akar masalah yang menyebabkannya.  

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.