Logistik Halal: Peluang yang Terlepas

Besaran pasar Logistik Halal adalah US$2,3 triliun dengan sebaran terbesar di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika (Abdullah, 2015). Nilai ini sekitar Rp30.000 triliun atau 3 kali lipat PDB Indonesia.

Ricky Virona Martono
Odoo image and text block


Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services - PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 29 Tahun VI, 18-24 September 2017 p. 82

Produk halal adalah produk yang diizinkan oleh hukum Agama Islam untuk dikonsumsi dengan  mempertimbangkan sisi keagamaan dan kesehatan. Yang tidak termasuk produk halal adalah makanan atau minuman yang mengandung dan berasal dari babi, serta menggunakan alkohol sebagai bahan tambahan (Dra. Hj. Artina Burhan, M.Pd, 2013). Lebih luas lagi, produk halal mencakup kosmetik, farmasi, pakaian, jasa keuangan, dan logistik (Marco Tieman, 2010).

Produk halal perlu dipersiapkan dan disampaikan kepada masyarakat, mulai dari proses bahan mentah sampai pengolahannya hingga menjadi barang jadi, pengemasan, pengiriman, dan penyimpanan sementara. Inilah yang mendorong perkembangan bukan hanya sebatas produk yang halal, namun sebuah logistik halal menjadi perlu (Farid Awang, 2013).   

Besaran pasar logistik halal adalah US$2,3 triliun dengan sebaran terbesar di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika (Abdullah, 2015). Nilai ini sekitar Rp30.000 triliun atau 3 kali lipat PDB Indonesia. Dengan pertumbuhan populasi masyarakat Muslim sekitar 1,86% per tahun, nilai pasar logistik halal sangat menggiurkan. Amerika dan Eropa sendiri sudah membuka kerjasama untuk logistik halal. Bahkan, Pelabuhan Rotterdam di Belanda sudah menyediakan pintu khusus untuk pelayanan dan pengiriman produk halal ke berbagai negara di Eropa. Besarnya nilai pasar dan akses tersebut membuat Malaysia sangat mempersiapkan diri menjadi Hub di Asia Tenggara untuk logistik produk halal.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita masih sibuk dengan pembangunan infrastruktur dasar, seperti akses jalan tol, bandara, dan pelabuhan. Dengan berbagai hambatan teknis dan politis, jangan harap Indonesia mampu merebut pasar logistik halal dari Malaysia. Peringkat performa logistik Indonesia pun masih jauh dari Malaysia (peringkat 63 berbanding peringkat 32, sumber: Logistic Performance Index). Maka, sebaiknya Indonesia konsentrasi memperbaiki Logistik dalam negeri, barulah merebut peluang di luar negeri.

Jika infrastruktur saja belum bisa bersaing, bagaimana ingin bersaing di bidang logistik yang lebih spesifik? Pekerjaan rumah lain bagi Indonesia adalah skor persaingan harga dan kemudahan dalam international shipment yang hanya 2,90 berbanding skor Malaysia 3,48. Jelas kondisi ini mempersulit Indonesia untuk proses ekspor-impor produk halal. Selain isu infrastruktur, proses operasional logistik halal membutuhkan beberapa kegiatan tambahan dalam menangani dan mengelola produk.

Misalnya, harus ada pemisahan moda transportasi produk halal dan yang tidak halal.  Jika sebuah truk sudah digunakan untuk mengirim produk tidak halal dan akan digunakan untuk mengirim produk halal, truk tersebut harus disucikan dengan cara dibersihkan menggunakan tanah (atau bahan kimia yang memiliki sifat yang sama dengan tanah) sebanyak 7 (tujuh) kali. Penempatan produk halal dan tidak halal juga harus dipisah, minimal dikemas dengan kemasan yang tidak akan mencampurkan produk halal dan tidak halal.

Meski ada kegiatan tambahan, tapi bukan berarti hambatan. Justru ini menjadi peluang usaha untuk membuat perusahaan pembersih moda transportasi dan sebagai penyedia kemasan untuk mencegah bercampurnya produk halal dan tidak halal.

Tantangan lain adalah memperoleh sertifikasi halal dari MUI yang membutuhkan proses audit dari hulu sampai ke hilir sebuah sistem logistik. Bayangkan jika proses pengolahan produk, gudang, kemasan produk, pengiriman, semua diaudit. Dalam satu sistem logistik pun ada banyak perusahaan, aset, dan jenis produk yang terlibat. Ada proses konsolidasi yakni beragam jenis produk dari beragam lokasi berkumpul sehingga setiap produk harus selalu diberi label yang sah, apakah sudah melalui proses yang halal atau tidak.

Sebaiknya, Indonesia membereskan logistik dalam negeri supaya lebih efisien, kemudian memikirkan bagaimana menjadi hub logistik terpercaya di Asia Tenggara, sebelum memikirkan bagaimana menjadi hub logistik halal. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun sekali Logistik Indonesia mencapai kelas dunia, maka semua potensi logistik halal dapat diraih, mengingat Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.