Lindungi Nilai Itu Penting

Perbedaan serta fluktuasi nilai tukar mata uang sulit untuk diprediksi secara tepat karena tingkat volatilitasnya yang sangat tinggi. Untuk itu, perusahaan multinasional perlu menerapkan suatu metode

Christy Dwita Mariana
Odoo image and text block



Oleh: Christy Dwita Mariana, S.T., M.M., CRMO - Faculty Member of PPM School of Management

*Tulisan ini Tayang di Majalah Sindo Weekly No. 23 Tahun VI, 7-13 Agustus 2017 p. 82

Tujuan utama penerapan perdagangan bebas kawasan Asia Tenggara (ASEAN Free Trade Area-AFTA) yang dibentuk sejak tahun 1992 adalah meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.  Kawasan bebas perdagangan ini sebagai salah satu dampak dari globalisasi. Globalisasi juga mendorong jumlah perusahaan multinasional yang ada di seluruh negara ASEAN, termasuk Indonesia, semakin bertambah.  


Tujuan pendirian perusahaan multinasional pada dasarnya sama dengan tujuan pendirian perusahaan pada umumnya, yaitu memaksimalkan kekayaan dari pemegang saham –salah satunya dengan meningkatkan profit dari bisnis yang dijalani. Perusahaan multinasional juga  menghadapi risiko operasional seperti perusahaan pada umumnya, namun yang biasa disoroti adalah risiko fluktuasi nilai tukar mata uang.


Perbedaan serta fluktuasi nilai tukar mata uang sulit untuk diprediksi secara tepat karena tingkat volatilitasnya yang sangat tinggi. Untuk itu, perusahaan multinasional perlu menerapkan suatu metode yang dapat meminimalisasi kerugian bagi perusahaan. Bahkan, kalau memungkinkan, memaksimalkan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan.


Salah satu metode yang umum digunakan oleh perusahaan multinasional adalah hedging, atau biasa dikenal dengan “aksi lindung nilai”.  Berdasarkan PBI No.15/8/PBI/2013, lindung nilai adalah cara atau teknik untuk mengurangi risiko yang timbul maupun yang diperkirakan akan timbul akibat adanya fluktuasi harga di pasar keuangan.


Apabila sebuah perusahaan telah memutuskan untuk melakukan hedging, perangkat-perangkat yang dapat digunakan diantaranya adalah kontrak forward, kontrak future, instrumen keuangan (hedging melalui pasar uang), swap, dan opsi valuta asing (Madura, 2012). Umumnya, perusahaan akan memilih menggunakan kontrak forward karena penggunaanya yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan perangkat hedging lainnya.


Kontrak forward diterapkan menggunakan kurs forward yang mewakili kurs penukaran valuta asing di masa depan.  Sebagai contoh, perusahaan X menggunakan kontrak forward untuk membayar pemasok di Amerika senilai US$90 juta pada 90 hari ke depan dengan kurs forward US$1 senilai Rp14.000.  Dengan demikian, perusahaan ini pada 90 hari ke depan harus menukarkan US$90 juta menjadi Rp14.000/dolar AS, berapa pun kurs valuta asing yang sedang berlaku pada saat itu. Strategi ini ditujukan untuk melindungi nilai transaksi perusahaan dari kemungkinan kurs valuta asing yang melonjak di masa mendatang.


Adapun konsep kontrak future. Sistem kontrak ini pada dasarnya sama dengan pada kontrak forward, namun kontrak future sudah diperjualbelikan di bursa tertentu untuk menjual atau membeli suatu aset tertentu, dengan besaran tertentu, harga tertentu, dan untuk jangka waktu tertentu.  Opsi valuta asing pada dasarnya dibedakan atas dua macam, yaitu calls sebagai hak beli dan puts sebagai hak jual dari aktiva tertentu pada masa mendatang.


Di Indonesia, praktik hedging dapat ditemui pada BUMN, yaitu PT Garuda Indonesia (GIAA) dan PT Bank BNI Tbk (BBNI).  GIAA melakukan kerjasama hedging dengan BBNI melalui skema cross currency swap (CCS) senilai Rp500 miliar dengan jangka waktu 3 tahun atas pokok utang dan bunga pinjaman. Melalui skema ini, GIAA menetapkan nilai dana berdenominasi rupiah yang dimilikinya terhadap valuta asing pada kurs referensi BI di 9 Juni 2014 (Rp11.790/dolar AS).  Artinya, pada 3 tahun ke depan, GIAA akan menukarkan dana Rp500 miliar yang dimilikinya dengan US$42,408 juta dari BBNI.  Hal ini tentu akan mengamankan GIAA dari fluktuasi mata uang dolar AS terhadap rupiah ke depannya. Strategi ini dilakukan GIAA lantaran pada 2013-2014,  beban usaha perseroan melonjak hingga 407,6% akibat fluktuasi nilai mata uang.


Melakukan hedging atau lindung nilai tidak serta-merta menjadikan perusahaan untung berpuluh kali lipat dari sebelumnya.  Setidaknya, perusahaan dapat berjaga-jaga akan kerugian atau keuntungan yang didapatkannya sehingga dapat merumuskan strategi yang tepat untuk kondisinya.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.