Kolaborasi Multigenerasi

Segala sumber mengenai perbedaan karakter antargenerasi baiknya menjadi bekal Anda dalam memahami bawahan, bukan malah menimbulkan asumsi atau prasangka.

Text and image block

Oleh: Yosefin C. Pranadewi - HR Consultant, PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Sindo Weekly No. 07 Tahun VI, 17-23 April 2017 p. 82

Perbedaan generasi menjadi salah satu bentuk keberagaman ( diversity) di organisasi. Bahkan, Universum dalam studinya pun banyak mengaitkan kepemimpinan dengan organisasi yang multigenerasi. Pergerakan angkatan kerja memang akan didominasi oleh generasi muda.  Mereka diprediksi akan semakin cepat memasuki dunia kerja seiring kemudahan akses pendidikan dan teknologi.

Jika melihat organisasi atau tempat Anda bekerja saat ini, Anda tentu menyadari rentang usia karyawan yang makin beragam. Sejak di bangku sekolah, kita terbiasa berada dalam kelompok yang rentang usianya sama ( peer group ). Namun sekarang, ketika kita dalam dunia kerja yang lebih kompleks, rentang usia tentunya makin beragam. Bisa jadi, saat ini kita sebagai generasi yang lebih tua atau malah lebih muda.

Perbedaan generasi inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi organisasi masa kini, dimulai pada  2000-an, terutama saat internet berkembang pesat berkat kemunculan media sosial yang telah menggeser cara berkomunikasi. Bahasan mengenai kesenjangan generasi ( generation gap ) seringkali kita temukan,seperti  bagaimana kita mengenal Gen Baby Boomers, Gen X, Gen Y atau Millenial hingga Gen Z.

Perbedaan antargenerasi juga banyak dibahas sebagai salah satu sumber konflik di organisasi. BIsa juga sebaliknya, sebab terjadinya konfik di organisasi secara cepat disimpulkan karena adanya perbedaan karakter antargenerasi. Namun, apakah perbedaan generasi ini serta-merta berdampak negatif?

Ada beberapa kiat jika Anda adalah seorang atasan yang memiliki tim dengan beragam generasi. Pertama, buka hati dan pikiran. Dalam dunia psikologi sosial pada 1900-an berkembang istilah simpati dan empati ketika mencoba memahami keadaan orang lain dari perspektif orang tersebut. Istilah ini lalu berkembang menjadi sebuah idiom: “Always put yourself in others’ shoes”.

Sudah selayaknya Anda mengenal dengan baik tim kerja Anda, tidak terbatas pada generasi yang sama dengan Anda. Segala sumber mengenai perbedaan karakter antargenerasi baiknya menjadi bekal Anda dalam memahami bawahan, bukan malah menimbulkan asumsi atau prasangka. Pemahaman terhadap “keunikan” pribadi itu menjadi lebih mudah ketika kita tidak memiliki asumsi atau prasangka terhadap orang lain. Budayakanlah untuk mencoba mengerti dari perspektif orang lain sebelum memutuskan segala sesuatu.

Kedua, terapkan gaya komunikasi efektif. Seberapa sering Anda saling bertatap muka dengan bawahan Anda untuk sama-sama melihat kemajuan hasil kerja? Silakan direfleksikan, apakah gaya komunikasi Anda sudah efektif atau belum? Sudahkah Anda memastikan bahwa pesan, ide, atau arahan yang Anda berikan tersampaikan dengan tepat? Sebaliknya, apakah Anda sudah “mendengarkan” apa yang disampaikan orang lain? Konon, Anda perlu lebih dulu mendengar sebelum didengarkan.

Komunikasi saat ini dipermudah dengan adanya teknologi, pergunakanlah kemudahan yang ada dengan optimal. Namun di sisi lain, pertemuan tatap muka tentu sebisa mungkin diupayakan. Telah banyak organisasi yang menerapkan “fun office” ketika gaya komunikasi makin terbuka, namun kemudahan dalam berbagi ide dan pendapat tentu saja tak boleh melupakan etika.

Ketiga, kolaborasi multigenerasi. Ketika sudah menerapkan kiat pertama dan kedua, tentunya Anda akan makin mengenal pribadi dan bagaimana cara yang efektif dalam mengelola tim Anda. Kolaborasi atau bekerja dengan saling mendukung berdasarkan kemampuan masing-masing tidak tertutup bisa dilakukan antargenerasi. Didasari dengan komunikasi yang efektif, Anda akan bisa “berbagi” dengan ciri khas Anda.

Misalnya, untuk generasi yang lebih senior yang memiliki lebih banyak pengalaman serta nilai-nilai kehidupan dapat membagikan hal tersebut kepada generasi yang lebih muda. Namun, tidak menutup diri untuk beradaptasi dengan kemudahan teknologi dan perubahan yang terjadi. Sebaliknya, generasi yang lebih muda,  sebut saja Gen Y, para Millenial hingga Gen Z, tetap terbuka terhadap masukan atau “cara kerja” para seniornya. Walaupun mereka adalah bawahan Anda, toh tidak ada salahnya untuk melatih kemampuan Anda dalam mendengar.

Intinya berbagi pengetahuan multigenerasi dapat menjadi salah satu penggerak ( enabler ) bagi kinerja organisasi, sebuah prinsip pembelajaran tanpa batas. Pada 1990, Peter F. Senge dalam bukunya telah meramalkan pentingnya menjadi organisasi pembelajar untuk keberlangsungan organisasi.

Senge menjelaskan, konsep organisasi yang terus melebarkan kapasitas untuk meraih tujuan bersama. Pola-pola berpikir terus diperbaharui serta bebas berkembang. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda percaya bahwa kolaborasi multigenerasi itu mungkin Anda lakukan?

Yosefin Candra Pranadewi

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.