Berterimakasihlah

Karena terdapat berbagai macam karakter orang yang kita hadapi sehari-hari baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan pekerjaan.

Ratu Eneng Kusumaningrat
Odoo image and text block


Oleh: Ratu Eneng Kusumaningrat, M.M.Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Sore itu Budi terlihat muram. Ia tengah duduk di meja kerjanya sambil memandang laptop dengan wajah lesu. Johan yang saat itu berada di sampingnya segera mendekat karena penasaran apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Akhir-akhir ini wajah Budi memang sering terlihat tak bersemangat.

“Kenapa Bud? Muram kali wajah kau?” tanya Johan mengawali pembicaraan dengan logat Bataknya yang kental. Budi tidak langsung menjawab. Dahinya berkerut dan wajahnya makin muram. “Say thank you doesn’t hurt budget, does it?” hanya itu yang ia ucapkan sambil bergegas meninggalkan Johan yang terbengong-bengong memandangi punggung Budi yang berlalu di hadapannya.

Rupanya Budi sedang kecewa karena seseorang tidak pernah mengucapkan terima kasih atas segala jerih payahnya dalam pekerjaan. Mungkin rekan kerja, atasan, atau bawahannya, hanya Budi yang tahu. Johan jadi termenung, apakah ia pernah lupa mengucapkan terima kasih, atau bahkan ia tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekelilingnya selama ini.

Yup, say thank you, terlihat sangat mudah, namun tidak semua orang bisa dengan mudah menyatakannya. Meskipun ini hal yang simpel, namun kenyataan yang terjadi adalah, say thank you paling sering diabaikan oleh seorang pegawai maupun pimpinan dalam organisasi. Apakah Anda pernah menjumpai rekan kerja, atasan, bawahan, yang tidak pernah mengucapkan terima kasih, atau sulit mengucapkan terima kasih seperti yang dialami Budi pada sepenggal cerita diatas? How does it feel?

Reaksi Anda mungkin bisa bermacam-macam, bisa emosi dan frontal mengatakan “gak bisa say thanks dulu bro sebelum marah-marah mengkritisi hasil kerja gue?”, atau ngedumel dalam hati “buat apa saya kerjakan, kalau tidak pernah diapresiasi”, atau hanya diam dan memendam kesal dalam hati, lalu kecewa pun terakumulasi.

Terdapat berbagai macam karakter orang yang kita hadapi sehari-hari baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan pekerjaan. Ada tipe orang yang sangat mudah mengucapkan terima kasih, sekecil apapun effort yang sudah dilakukan orang lain. Ada tipe orang yang mengucapkan terima kasih namun terlihat seperti basa-basi. Ada tipe orang yang sebesar apapun usaha yang sudah dilakukan orang lain untuk membantu pekerjaan rekannya, sulit baginya untuk mengeluarkan dua kata yang sangat powerful, thank you.

Prinsip dari orang-orang yang memiliki karakter seperti ini adalah adanya pemikiran “Masih untung saya kasih kamu kerjaan!”, atau “Kalau sedikit-sedikit thank you, bawahan atau rekan kerja akan ngelunjak, pasti minta kenaikan gaji ujung-ujungnya”, atau juga “Itu kan sudah kerjaan dia, mengapa saya harus ucapkan terima kasih?”, atau “kerja koq gak ikhlas!” Pemikiran seperti ini lambat laun akan menurunkan semangat dan motivasi pegawai dalam bekerja, dan pada akhirnya produktivitas pegawai akan terganggu, dan pencapaian sasaran organisasi pun akan terancam.

Apa pendapat Anda jika dalam suatu organisasi banyak pegawai yang nasibnya seperti Budi? Demotivasi karena budaya yang berjalan di organisasi adalah budaya selfish, tidak ada budaya gratitude, bersyukur, berterimakasih, saling menghargai, teamwork? Karena energy is contagious, satu atau dua orang berperilaku demikian, pada akhirnya budaya seperti itulah yang akan terbentuk dalam organisasi.

Apakah ini akan memberi dampak positif, atau negatif bagi employee morale within the organization? Anda pasti tahu jawabannya. Betul, moral pegawai akan turun. Tentu Anda masih ingat kata-kata Richard Bronson yang menyatakan bahwa “happy employees results in happy customers, happy customers results in happy shareholders.”

Budaya thank you yang simpel ini memberi dampak positif bagi individu maupun organisasi dalam beberapa hal:

    Meningkatkan produktivitas.

Sebuah riset dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa pemimpin yang mengapresiasi bawahan, salah satunya dengan budaya mengucapkan terima kasih cenderung memiliki bawahan yang lebih termotivasi dan produktif dibanding pegawai yang tidak pernah mendapat apresiasi dari atasannya.

    Mindset “bersyukur” menjadikan fisik dan mental seseorang lebih kuat.

Banyak riset membuktikan bahwa adanya rasa bersyukur pada diri seseorang cenderung meningkatkan ketahanan tubuh, menurunkan tekanan darah dan jantung yang sehat.
Dari sisi kesehatan mental, seorang yang pandai bersyukur memiliki kemampuan stress management yang tinggi.

    Energy is contagious.

Saat seseorang mengucapkan terima kasih, hal ini cenderung membuat orang lain melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Dengan demikian budaya say thank you dan menghargai orang lain menjadi hal yang melekat pada setiap orang, yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi karyawan.

    Budaya bersyukur dan berterima kasih meningkatkan kepuasan dalam bekerja (job satisfaction).

Pada saat seseorang merasa diapresiasi hasil kerjanya, maka ia cenderung akan merasa lebih bahagia dan puas terhadap pekerjaanya.

    Budaya berterimakasih adalah cara memotivasi karyawan tanpa harus mengeluarkan biaya.

Banyak perusahaan yang mengeluhkan bujet yang sangat terbatas, tidak ada alokasi untuk employee recognition, budaya terima kasih adalah salah satu solusinya. Sangat murah, bahkan no cost at all, hanya perlu kebesaran hati setiap orang, untuk bisa mengapreasisai hasil kerja orang lain.

    Budaya berterima kasih meningkatkan employee engagement pegawai.

Sebuah survei menunjukkan bahwa karyawan yang engaged dengan organisasi mampu menghasilkan financial performance empat kali lipat dibanding dengan organisasi yang memiliki poor engagement. Ingat, pegawai yang termotivasi adalah kunci sukses sebuah organisasi.

    Budaya berterima kasih menurunkan peluang konflik.

Keuntungan dari budaya berterima kasih adalah setiap orang merasa dihargai, sehingga hal ini akan mendorong interaksi positif antar elemen di dalam organisasi dan menurunkan konflik, sehingga pencapaian target bisa dilakukan dengan optimal dalam atmosfir kerja yang positif.

    Budaya berterima kasih sebagai salah satu bentuk employee recognition menurunkan tingkat turn over.

Berdasarkan beberapa survei, organisasi yang memiliki budaya employee recognition, yaitu budaya mengapresiasi pegawai dengan say thank you salah satunya, terbukti menurunkan tingkat turn over pegawai

Berterimakasih tidak harus selalu di depan publik. Hal tersebut bisa dilakukan secara private. Pada saat pertemuan formal, mengucapkan terimakasih dengan spesifik menyebut nama seseorang akan membuat orang tersebut merasa dihargai.

Mengucapkan terimakasih kepada rekan kerja atau bawahan Anda melalui email bisa menjadi salah satu option paling mudah untuk mengekspresikan penghargaan kita kepada orang lain. Bahkan saat ini, semua bisa dilakukan dengan sangat cepat dan mudah dengan menggunakan gawai, melalui WhatsApp messenger misalnya. Mudah bukan? Selalu ada jalan selama ada niat.

Seringkali, pesta – pesta perayaan achievement, penyematan pin, atau penyerahan piagam dihadiri pegawai karena terpaksa, mereka tidak merasa sepenuhnya diapresiasi. Di sisi lain, a simple thank you justru memberi motivasi yang luar biasa kepada pegawai.

Jadi, Anda bukanlah superhero yang bisa bekerja sendiri kan? Tunggu apa lagi, tarik nafas dalam – dalam, pikirkan siapa saja orang yang telah banyak membantu pekerjaan Anda, yang telah berperan dalam pencapaian sasaran unit kerja Anda, entah itu bawahan Anda, rekan kerja, tim supporting, termasuk office boy, cleaning service, say thank you to them now. Jangan lupa, ucapkan terima kasih dengan hati yang tulus, genuine, tidak terpaksa.



Leave a comment

You must be logged in to post a comment.