Yin dan Yang dalam Tim

Dalam tim apapun hanya ada delapan tipe yang akan muncul berdasarkan kombinasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang berinteraksi di dalam tim.

Text and image block




Oleh : Gerad Pasolang M.M. – Trainer, Executive Development Program

*Tulisan dimuat di SWA Online

Simbol Yin dan Yang mungkin sudah sangat familiar bagi kita, simbol yang dikenal dari negeri tirai bambu yang menunjukkan sisi terang dan gelap. Simbol tersebut dapat dimaknai bahwa setiap orang memiliki sisi terang dan gelap yang berkombinasi menjadi kekuatan dan kelemahan seseorang.

Sejalan dengan simbol Yin dan Yang yang sudah ada sejak berabad-abad lalu, R. Meredith Belbin MA PhD, dalam bukunya Management Teams yang dipublikasikan tahun 1981 berdasarkan hasil penelitiannya mengenai interaksi berbagai tim selama bertahun-tahun menemukan bahwa, dalam tim apapun hanya ada delapan tipe yang akan muncul berdasarkan kombinasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang berinteraksi di dalam tim.

Delapan tipe tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Company Worker, ciri-cirinya adalah konservatif, patuh, dan dapat diprediksi. Tim ini mempunyai kemampuan organizing, berpikir praktis, pekerja keras dan disiplin sebagai kekuatannya. Sementara kelemahannya adalah kurang fleksibel, tidak berespon terhadap ide-ide yang belum terbukti.
  2. Chairman, dengan ciri tenang dan percaya diri. Kekuatannya adalah kemampuan menghargai seluruh kontributor berdasarkan kontribusi mereka tanpa prasangka serta memiliki objektifitas yang tinggi. Sedangkan kelemahannya, kemampuan intelektual dan kreatifitas standar.
  3. Shaper, bercirikan sangat tegang, apa adanya dan dinamis. Kekuatannya adalah mampu menantang kelambanan, ketidakefektifan dan kepuasan diri. Sebagai Provokator, menggangu dan tidak sabar menjadi kelemahannya.
  4. Plant, ciri yang individualistis, serius, tidak ortodoks. Jenius, imaginatif, intelek dan berpengetahuan menjadi sebuah kekuatan tersendiri untuk tim ini. Sementara itu kurang realistis, cenderung mengabaikan detail praktis atau protokol yang menjadi kelemahannya.
  5. Resource Investigator, cirinya adalah ekstrovert, antusias, keingintahuan besar, komunikatif. Mempunyai kekuatan berkemampuan berhubungan dengan orang lain dan mengeksplorasi hal baru, kemampuan untuk merespon tantangan. Dan mempunyai kelemahan mudah terpengaruh dengan kesan pertama.
  6. Monitor Evaluator, sabar dan bijaksana menjadi cirinya. Bijak dalam memutuskan, memiliki prinsip yang teguh menjadi kekuatannya. Tapi kehilangan inspirasi untuk memotivasi orang lain menjadi kelemahannya.
  7. Team Worker, cirinya berorientasi sosial, lembut serta sensitif. Kekuatannya berkemampuan merespon orang lain dan situasi untuk membangkitkan semangat tim. Sedangkan kelemahannya tidak dapat mengambil keputusan dalam keadaan krisis.
  8. Completer-Finisher, adalah mereka yang telaten, tertib, teliti, dan cemas menjadi ciri utama. Kemampuan mengimbangi si perfeksionis menjadi kekuatan utama. Kelemahannya yaitu cenderung mengkhawatirkan hal kecil dan keengganan untuk merelakan.

Dalam diri seseorang bisa saja muncul dua atau tiga tipe yang dominan yang berkombinasi menjadi kekuatan dan kelemahan orang tersebut. Dalam penelitiannya, Belbin juga menemukan beberapa tim yang berkinerja tinggi bila anggotanya terdiri dari kombinasi tipe-tipe tersebut yang saling melengkapi. Sebaliknya kombinasi tipe yang kurang sesuai juga akan berpengaruh pada kurang optimalnya kinerja tim.

Sudah sangat umum saat ini ketika organisasi akan merekrut seseorang untuk bergabung dalam organisasi, dilakukan asesmen terlebih dahulu terhadap kandidat tersebut, salah satunya untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan (tipe) kandidat yang akan diterima apakah sesuai dengan kebutuhan tim dimana ia akan bergabung nantinya.

Sayangnya, banyak juga organisasi yang tidak melakukan asesmen dengan optimal hanya terpaku pada pengetahuan dan keterampilan kandidat saja sehingga kehilangan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan individu tersebut yang mengakibatkan ketika diterima menjadi bagian tim dalam organisasi ternyata individu tersebut tidak mampu berinteraksi  atau bekerja sama dengan anggota tim lainnya, otomatis pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya juga tidak akan termanfaatkan dengan optimal.

Hal yang sama juga berlaku bagi tim yang telah terbentuk. Untuk mencapai performa tim yang optimal, seorang pemimpin tim perlu mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap individu yang ada dalam timnya untuk menyusun strategi kerja sama yang bersinergi tinggi. Strategi yang dimaksud tentunya berhubungan dengan mengoptimalkan kekuatan dan mengatasi kelemahan masing-masing anggota tim sesuai dengan kebutuhan tim.



Share