Tanggung Jawab Rantai Pasok

Jika masalah menerpa satu rantai, idealnya, seluruh anggota punya tanggung jawab yang sama untuk menemukan solusi.

Text and image block



Oleh : Rosa Sekar Mangalandum, M.M.Trainer, Executive Development Program PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online


Akhir Februari 2017 lalu, jagad bisnis internasional dikejutkan oleh investigasi Sky News. Tim jurnalis itu menemukan anak-anak berusia empat hingga sebelas tahun dipekerjakan di tambang-tambang kobalt di Provinsi Katanga, Republik Demokrasi Kongo. Kondisi tambang rentan runtuh, sedangkan para pekerja tak mengenakan alat pelindung. Para penambang cilik itu diupah 8 pence, namun harus bekerja 12 jam sehari menambang kobalt -mineral utama pembuat baterai ponsel pintar dan komputer jinjing, macam Apple dan Samsung.

Penelusuran Sky News dan beberapa media lainnya mengungkap perjalanan kobalt tersebut di sepanjang rantai pasok. Pembicaraan tentang rantai pasok yang bertanggung jawab pun terangkat kembali.

Apple Inc. menyatakan, mereka berkomitmen menggunakan material yang bertanggung jawab dan menetapkan standar ketat terhadap pemasok. Zhejiang Huayou Cobalt, perusahaan smelting dan pengolahan kobalt menyatakan bahwa mereka telah memerhatikan isu pekerja anak. Di sisi lain, organisasi nirlaba seperti African Resources Watch menekankan pentingnya transparansi, terutama tentang sumber bahan mentah yang digunakan.

Transparansi dan kolaborasi memang merupakan elemen pendukung terciptanya rantai pasok yang bertanggung jawab. Transparansi adalah terbukanya akses informasi tentang sumber pasokan kepada mitra-mitra rantai pasok, terutama konsumen dan lembaga regulator. Kolaborasi merupakan kemitraan jangka panjang, suatu pola pikir untuk bekerja bersama dan mengusahakan profit bersama. Jika masalah menerpa satu rantai, idealnya, seluruh anggota punya tanggung jawab yang sama untuk menemukan solusi.

Di samping transparansi dan kolaborasi, terdapat 5 elemen lain yang juga berpengaruh terhadap penciptaan rantai pasok yang bertanggung jawab. Dikemukakan oleh David Eriksson dan Göran Svensson pada tahun 2015, pandangan holistik, daya tawar, integrasi vertikal, jarak organisasi (organisational length), jarak geografis, kesenjangan budaya merupakan elemen-elemen tanggung jawab sosial di dalam rantai pasok.

Pandangan holistik diperlukan agar setiap entitas melihat rantai pasok sebagai satu kesatuan, tidak terpecah-pecah. Artinya, praktik logistik yang dilakukan oleh pemasok akan berdampak pada manufaktur, distributor, bahkan konsumen akhir. Hingga akhirnya setiap entitas bertanggung jawab pada rantai pasoknya.

Elemen ini berkaitan dengan daya tawar, yakni kekuatan untuk menentukan apa yang dilakukan oleh mitra dalam rantai pasok. Entitas berdaya tawar tinggi seperti Apple Inc. misalnya, dapat memberlakukan kebijakan agar pemasok selalu menggunakan pasokan mineral yang bertanggung jawab. Sebaliknya, jika entitas tersebut cenderung tidak bertanggung jawab, seluruh rantai pasok pun sangat sulit berkembang.

Integrasi vertikal, jarak geografis, dan jarak organisasional berkaitan dengan pengendalian. Tingginya tingkat integrasi vertikal dalam suatu rantai pasok memudahkan kendali terhadap praktik logistik yang bertanggung jawab. Entitas yang terintegrasi secara vertikal adalah entitas yang berdiri di bawah induk usaha yang sama. Lazimnya, entitas yang dikontrol oleh induk yang sama akan lebih mudah didorong untuk berkolaborasi karena adanya kewenangan induk untuk menetapkan kebijakan. Dengan adanya kebijakan, entitas tersebut diwajibkan melaksanakan praktik rantai pasok yang bertanggung jawab.

Adapun semakin dekat jarak geografis dan organisasional, semakin mudah pula pengendalian. Ketika rantai pasok tak memiliki keistimewaan integrasi vertikal, jarak geografis, dan jarak organisasional ini, sistemlah yang harus diunggulkan.

Upaya ini akan lebih terdukung bila rantai pasok mampu menjembatani kesenjangan budaya. Dalam konteks rantai pasok global, saling memahami budaya merupakan kunci sukses untuk menerapkan kode etik dan sistem yang bertanggung jawab. Para pelaku rantai pasok tak lain, tak bukan adalah manusia. Kolaborasi yang solid dibangun dari komunikasi. Tanpa pemahaman lintas budaya, mustahil komunikasi dan kolaborasi yang baik bisa dicapai.

A chain is only as strong as its weakest link. Seperti disiratkan oleh perumpamaan tersebut, tanpa pengelolaan yang bertanggung jawab, mustahil mewujudkan sebuah rantai pasok yang benar-benar kuat.



Share