Seni Mengkritik Atasan

Umumnya mereka terlalu khawatir akan buruknya penilaian kinerja dan suramnya karir di masa yang akan datang jika terlalu keras mengekspresikan pendapat atau keinginan.

Text and image block




Oleh : Achmad Fahrozi M.M.HR Consultant, PPM Consulting

*Tulisan ini dimuat di SWA Online


Mengkritik adalah salah satu bagian paling rumit dalam relasi kehidupan dunia kerja. Apalagi jika kritik dilakukan terhadap atasan. Sebuah penelitian mengungkap bahwa 51% orang sulit mengkritik atasannya.

Pada sesi kelas leadership dan effective supervisory management, tak jarang penulis mendapat pertanyaan seperti ini dari peserta pelatihan, “Pak bagaimana cara mengubah atasan saya?”  Bermaksud memperjelas arah pertanyaan, biasanya penulis meminta peserta mendeskripsikan lebih detail tentang maksud pertanyaan yang diajukan.

Secara umum penjelasan yang disampaikan tidak jauh dari masalah perilaku atasan yang dianggap menyebalkan.  Beberapa perilaku tersebut seperti: atasan kurang mampu membagi beban kerja anak buah, atasan kurang cakap mengelola waktu rapat, atasan kurang lihai membuat perencanaan dan menentukan prioritas pekerjaan yang harus dilakukan tim, atasan tidak memiliki waktu untuk membimbing bawahan, dan sederet perilaku negatif lainnya.

Intinya, atasan dianggap kurang cakap dalam memimpin tim. Bahkan muncul lelucon dari peserta bahwa sesi pelatihan ini seharusnya lebih tepat diberikan kepada bosnya tersebut. Dan lucunya, curhatan peserta pelatihan tersebut seringkali mewakili suara hati banyak karyawan di berbagai perusahaan.

Isu kepemimpinan memang selalu menjadi isu hangat dalam dunia kerja. Hubungan atasan dan bawahan memiliki peranan kunci dalam mengikat karyawan terhadap perusahaan. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh PPM Manajemen selama 3 tahun terakhir di Indonesia, menyebutkan bahwa kepemimpinan atasan berperan langsung dalam mendorong keterikatan karyawan terhadap perusahaan (employee engagement).

Namun, bagaimana respon karyawan jika menghadapi atasan seperti di atas?

Sebagian besar berperilaku submisif. Mereka takut mengkritik dan menerima begitu saja perlakuan atasan dan berharap atasan akan berubah seiring berjalannya waktu. Mereka gagal menyatakan kebutuhan, keinginan dan pendapat secara jujur kepada atasan. Pada intinya, mereka gagal membela haknya.

Umumnya mereka terlalu khawatir akan buruknya penilaian kinerja dan suramnya karir di masa yang akan datang jika terlalu keras mengekspresikan pendapat atau keinginan. Kalau pun sudah terlalu kesal, mereka akan menumpahkannya lewat gosip atau curhatan dengan sesama rekan kerja atau melalui media sosial.

Sebagian kecil berperilaku agresif. Biasanya ini dilakukan oleh karyawan yang nyalinya cukup besar. Mereka berani mengkritik dengan keras dan mengekspresikan kebutuhan, keinginan dan perasaan dengan tegas bahkan cenderung kurang pantas. Mereka berani menolak perintah atau tugas apa pun yang tidak sesuai keinginan dirinya. Pada intinya mereka berusaha mempertahankan haknya dan cenderung abai terhadap hak atasan.

Puncaknya mereka dapat mencari peluang karir di unit kerja lain atau resign dari perusahaan jika sudah tidak cocok lagi dengan atasan. Ini yang menurut sebuah penelitian disebut: People do not leave their job or company, They leave their boss.

Dua respon di atas memang lazim terjadi pada dunia kerja, namun biasanya berakhir antiklimaks. Baik submisif ataupun agresif tidak mampu membangun hubungan atasan bawahan lebih sehat dan produktif.  Bahkan cenderung membuat masalah semakin membesar dan berdampak buruk pada kinerja tim.

Lalu bagaimana sebaiknya respon yang tepat dilakukan?

Ada satu alternatif respon yang sebetulnya dapat dilakukan yaitu merespon secara asertif. Karyawan tetap bisa memberikan kritik kepada atasan namun dengan cara yang halus dan sopan. Mereka dapat mengekspresikan keinginan, pendapat dan perasaan secara jujur, terus terang dan sopan. Intinya mereka mempertahankan haknya namun tetap peduli terhadap hak atasan.

Patti Hathaway dan Susan D. Schubert dalam bukunya Dealing with Difficult Boss, menjelaskan secara gamblang seni dalam menyampaikan kritik secara asertif kepada atasan.

Pertama, memilih waktu yang tepat. Pemilihan waktu menjadi satu hal yang krusial. Pilihlah momen di mana atasan dalam kondisi fit dan positif. Hindari kondisi stres atau ketika pekerjaan sedang menumpuk. Pastikan Anda membuat janji terlebih dahulu dengan atasan, sehingga atasan dapat meluangkan waktu dan memiliki persiapan cukup untuk bertemu Anda.  Jika perlu, sampaikan berapa lama waktu dibutuhkan untuk bertemu atasan.

Kedua, mendapatkan persetujuan atasan. Sampaikan kepada atasan bahwa Anda memiliki sesuatu yang dapat meningkatkan efektifitas hubungan kerja dengannya. Jangan sekali-kali membawa permasalahan yang muncul kepada atasan dari atasan langsung Anda sebelum mendapat persetujuannya. Pastikan tidak melangkahinya karena itu akan merusak kredibilitas Anda di matanya sebagus atau sebenar apa pun Anda. Juga, penting untuk tidak mengkritik atasan di muka umum karena itu merupakan perilaku yang tidak profesional.

Ketiga, menyampaikan kritik secara khusus. Persiapkanlah fakta ataupun bukti pendukung yang memperkuat dan memperjelas isu yang akan Anda sampaikan. Buatlah menjadi lebih detail dan spesifik. Jika perlu jelaskan contoh-contoh khusus yang lebih menggambarkan kondisi yang terjadi. Pastikan bahwa dia memiliki pemahaman yang sama dengan Anda terhadap permasalahan yang terjadi. Kalau Anda tidak siap dengan semua ini, maka bersiaplah untuk mendapat penolakan darinya.

Mungkin anda merasa bahwa atasan Anda seharusnya menyampaikan permohonan maaf kepada Anda atas kondisi yang terjadi.  Namun, jangan terbawa emosi yang membuat Anda hilang fokus pada permasalahan yang terjadi. Hindari menyudutkan dirinya. Juga penting untuk menawarkan bantuan atau solusi dengan memberi tahu hal-hal apa yang atasan Anda dapat lakukan untuk memperbaiki keadaan.

Keempat, menunjukkan manfaat bagi tim kerja. Secara spesifik jelaskan kepadanya manfaat apa yang akan didapat oleh tim kerja jika atasan mengubah perilakunya. Biacaralah dengan jujur kepadanya bahwa Anda ingin mendukungnya bukan ingin menjatuhkannya.

Kelima, menyusun kesepakatan.  Buatlah kesepakatan secara tertulis dengan merangkum hal-hal yang telah bahas. Ciptakan komitmen bersama dengannya. Tunjukan dukungan Anda dan minat untuk selalu memperbaiki hubungan dan kinerja. Tutuplah diskusi dengan nada yang bersahabat. “Saya sungguh menghargai kesediaan Anda untuk melakukan ini dan saya yakin tim ini akan mendapatkan manfaat dari perubahan ini. Terima kasih”

Semoga langkah praktis di atas membantu Anda untuk melakukan kritik dengan lebih baik demi terwujudnya hubungan yang harmonis untuk jangka waktu yang lama.

Selamat mencoba!




Share