Seni Memuji Karyawan

Kalau diibaratkan, membangun hubungan itu seperti menabung atau investasi. Setiap interaksi ataupun perilaku leader kepada follower akan menambah atau mengurangi emosi positif atau negatif yang dirasakan bawahan.

Text and image block




Oleh: Achmad Fahrozi, M.M.HR Consultant, Organization Development Services

*Tulisan ini tayang di SWA Online

Dalam sebuah organisasi, seorang leader dituntut untuk mewujudkan tim yang solid dan berkinerja tinggi. Tim seperti ini secara kolektif mendukung tercapainya organisasi yang berkinerja tinggi. Tidak mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa.

Di antara tugas-tugas penting yang harus dilakukan leader untuk membuat kinerja timnya solid dan berkinerja tinggi, yaitu membangun hubungan antara leader dan follower (atasan dan bawahan). Membangun hubungan bukan perkara mudah dan cepat. Diperlukan waktu dan usaha yang gigih untuk mewujudkannya.

Kalau diibaratkan, membangun hubungan itu seperti menabung atau investasi. Setiap interaksi ataupun perilaku leader kepada follower akan menambah atau mengurangi emosi positif atau negatif yang dirasakan bawahan. Kalau saldonya positif, maka hubungan menjadi erat, penuh respek, hangat, harmonis dan berdaya guna. Yang jadi masalah adalah jika saldonya negatif, hubungan renggang, tidak saling percaya, dingin, penuh curiga dan berpotensi merusak tim.

Leader harus piawai menggunakan beragam teknik kepemimpinanan dengan tepat. Memberikan pujian adalah salah satunya. Dalam bukunya yang amat populer One Minute Manager, Dr. Kenneth Blanchard sepakat bahwa memberikan pujian adalah seni dan kompetensi yang harus dikuasai setiap pemimpin. Karena pujian yang tulus dan tepat mampu membangkitkan kepercayaan dan penghargaan diri bawahan yang berdampak pada kinerja.

Orang yang Tepat

Pastikan leader memberikan pujian kepada orang yang tepat, yaitu orang yang memang benar-benar layak mendapatkan pujian. Leader juga harus memahami konteks pujian yang akan diberikan, apakah untuk satu kesatuan tim atau untuk usaha perorangan. Hati-hati salah alamat memberikan pujian, kalau salah alamat menjadi tidak relevan karena tidak akan memacu motivasi yang bersangkutan.

Leader perlu memonitor perilaku dan hasil kerja tim secara jeli. Sangat membantu jika leader memiliki catatan khusus tertulis untuk setiap prestasi kerja anggota tim. Dan tidak ada salahnya leader melakukan crosscheck kepada pihak yang dianggap bisa memberikan informasi yang presisi.

Spesifik dan Deskriptif

Sampaikan pujian secara spesifik. Biarkan bawahan tahu secara jelas apa yang leader sukai dari pekerjaannya. Kalau leader suka dengan laporan yang telah dibuatnya, perjelaslah apa yang disukai dari laporan tersebut; apakah data fakta yang disajikan, ketajaman analisisnya, desain dan layoutnya, ketepatan waktunya, tata bahasa yang mudah dimengerti atau apa.

Gunakanlah kata kerja untuk mendeskripsikan perilaku atau kinerja yang patut dipuji. Lalu sampaikan apa dampaknya bagi tim dan organisasi. Misal: “Saya suka dengan cara kerja Anda. Anda dapat menyampaikan data riil yang begitu akurat. Dampaknya, kita dapat membuat keputusan menjadi lebih mudah dan tepat. Hasilnya dapat terlihat dari meningkatnya pencapaian tim kita.” Semakin spesifik dan deskriptif, leader akan terlihat tulus daripada sekedar basa-basi.

Segera

Berikan pujian sesegera mungkin setelah bawahan menunjukkan perilaku atau kinerja seperti yang leader harapkan. Semakin dekat pujian yang diberikan dengan perilaku/kinerja yang dimunculkan efeknya semakin positif. Itu memperkuat mental dan sikap mereka. Dan itu berarti bahwa leader selalu ada, mengawasinya, mendukunganya, siap sedia membantunya dan peduli akan kemajuannya.

Personal

Kadang kala leader memberikan pujian secara terbuka di depan anggota tim lain. Leader berharap ini akan memotivasi orang lain agar mengikuti hal yang sama dengannya. Ini tidak salah, tapi cobalah berikanlah pujian secara personal.

Sesuatu yang lebih personal jauh lebih berkesan. Sampaikan secara pribadi. Kunjungilah ruangan kerjanya. Sapa dan puji lah langsung. Ucapkan terima kasih atas kontribusinya. Jika berada pada wilayah kerja yang berbeda, leader bisa menggunakan telepon, pesan atau video call untuk langsung memujinya.

Adakalanya leader perlu lebih dari sekedar memberikan pujian dengan lisan atau tulisan. Jabat tangan, tos-tosan, menepuk pundak dan rangkulan merupakan positive reinforcement yang patut dicoba. Itu akan makin memperkuat kepercayaan diri dan hubungan dengannya.

Konsisten

Tidak semua orang ringan memuji. Jika leader termasuk orang yang tidak pernah atau jarang sekali memuji, maka saatnya mengubah kebiasaan. Sama halnya dengan mengubah apa pun dalam aspek kehidupan lainnya, selalu butuh waktu dan proses.

Jika ada perasaan aneh yang leader rasakan ketika memuji, maka konsistenlah untuk terus memuji. Begitu pun jika bawahan merasakan hal yang aneh pada leader karena kebiasaan barunya dalam memuji, maka konsistenlah untuk terus memuji. Lambat tapi pasti akan mulai terbiasa dan ini akan menjadi kebiasaan positif baru. Ingat rumus “dipaksa, terpaksa, bisa, biasa”

Selamat mencoba!


Share