Psikologi di Perusahaan

Dalam dunia manajemen, seorang psikolog juga ikut andil dalam perubahan manajemen SDM, yang awalnya organisasi mengelola SDM di Unit Personalia, kini sudah digencarkan dengan Human Capital.

Text and image block




Oleh : Galuh Putri Asrirani  Manajer Asesor | PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Dalam perjalanannya sebagai sebuah ilmu, psikologi telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi atau perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas. Pendekatan ini lebih dikenal sebagai Psikologi Industri dan Organisasi. Ilmu ini menerapkan prinsip atau metode psikologi dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan perilaku manusia di tempat kerjanya.

Para lulusan psikologi yang berkarir dalam dunia perusahaan banyak menunjukkan peranan penting dalam pengembangan sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja. Permasalahannya adalah, masih banyak orang yang belum dapat melihat peran tersebut karena memang cenderung implisit, maksudnya seringkali tidak langsung dapat dilihat dalam ranah finansial.

Lalu dimana letak perbedaan antara Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dengan Manajemen SDM? Seperti yang tadi sudah dijelaskan, bahwa PIO berfokus pada sikap, kepribadian, dan gejala perilaku SDM yang ditampilkan dalam dunia organisasi atau perusahaan. Sedangkan Manajemen SDM berfokus pada bagaimana membuat perencanaan, pengaturan, pengarahan serta pengawasan terhadap SDM dalam perusahaan.

Apabila dicermati secara umum, maka PIO mencoba meng-capture perusahaan/organisasi berbasis pada perilaku, sikap, motivasi dan karakter manusia ketika melakukan suatu pekerjaan. Sementara manajemen SDM melihat perusahaan/organisasi berbasis pada perencanaan jumlah SDM, mengatur posisi manusia supaya sesuai dengan strategi perusahaan, mengarahkan SDM pada misi perusahaan, evaluasi efektifitas struktur organisasi, mendesain & mengembangkan sistem manajemen SDM dan seterusnya.

Bagaimana psikologi berperan dalam perusahaan? menurut John Miner (1992), itu dapat dirumuskan dalam 4 bagian. Pertama, terlibat dalam proses input. Hal yang dilakukan adalah rekrutmen, seleksi, dan penempatan karyawan. Kedua, berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas. Peran psikologi ikut andil melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan.

Adapun yang ketiga, berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan. Praktek psikologi digunakan untuk melakukan hubungan industrial (pengusaha-buruh-pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggung jawab atas dampak  yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan, konseling dan terapi  bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis.

Dan keempat, terlibat dalam proses output. Metode psikologi ikut terlibat dalam melakukan penilaian kinerja, mengukur produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.

Dari sini kita bisa lihat bahwa, seorang psikolog dalam dunia industri tidak hanya di kenal sebagai “tukang tes” atau “interviewer” saja. Saat ini seorang psikolog tidak hanya mengakhiri karirnya di Rumah Sakit Jiwa, tapi juga sudah mampu berkarir di sebuah perusahaan.

Dalam dunia manajemen sendiri, seorang psikolog juga ikut andil dalam perubahan di dunia manajemen SDM, yang awalnya organisasi mengelola SDM di Unit Personalia, kini sudah digencarkan dengan Human Capital, bahkan berkembang menjadi Talent Management. Peran psikolog di perusahaan ikut mengubah paradigma bahwa SDM yang awalnya hanya sebagai pekerja tapi dituntut melihat SDM sebagai “asset” untuk perusahaan.

Psikolog tidak hanya harus mampu mencari kandidat yang “The Right Man In The Right Place”, tetapi psikolog juga harus mampu melihat kebutuhan pengembangan SDM. Selain itu, tugasnya juga harus mampu menjadi jembatan bagi para pekerja kepada Top Management agar seimbang antara hak dan kewajibannya. Psikolog juga dituntut untuk mampu mengomunikasikan visi dan misi perusahaan melalui pedoman kerja yang mengarah pada produktivitas hingga evaluasi kinerja. Jadi bisa dibilang, peran psikologi sejatinya sangatlah luas dalam sebuah organisasi atau perusahaan, apalagi dalam manajemen SDM yang merupakan seni mengelola manusia, sebab dimana ada manusia, disitulah psikologi berada.



Share