Merancang Mimpi, Menakar Resolusi

Dalam dunia manajemen, penyusunan rencana kerja seringkali menggunakan prinsip SMART Objective yang dipopulerkan oleh Peter Drucker.

Text and image block




Oleh: Noveri Maulana, M.M. – Faculty Member PPM School of Management

*Tulisan ini tayang di SWA Online

Tak terasa sudah puluhan hari di tahun ayam api kita lewati. Berbagai harapan dan keinginan sudah banyak diikrarkan. Puluhan atau mungkin ratusan rencana sudah mulai disusun. Bahkan, tidak sedikit yang bersusah payah menyusun strategi capaian tahunan dalam bentuk resolusi. Ya, resolusi pribadi menjadi trending topic yang selalu dibahas di awal setiap tahun.

Tidak ada yang salah atas keinginan untuk merancang sebuah resolusi pribadi di awal tahun. Bahkan, banyak orang yang justru menganjurkannya. Keberadaan resolusi diyakini akan memberi arahan yang jelas bagi pencapaian target keinginan dan harapan. Bukan sekadar latah atau ikut-ikutan, tapi penulisan resolusi merupakan sebuah komitmen perjalanan hidup yang akan dilewati selama satu tahun ke depan.

Oleh Karena itu, hendaknya resolusi memang mampu menjadi panduan sebagai tolak ukur capaian yang ingin diraih. Jangan sampai resolusi berakhir sekadar wacana, tidak pernah berubah menjadi rencana. Ibarat peta, sebuah resolusi yang baik harus mampu memandu kepada arah dan tujuan yang jelas.

Dalam dunia manajemen, penyusunan rencana kerja seringkali menggunakan prinsip SMART Objective. SMART Objective yang dipopulerkan oleh Peter Drucker ini merupakan singkatan dari Specific, Measurable, Achievable, Reliable, dan Timely. Objektif yang terdiri dari lima indikator ini menjadi pegangan para praktisi manajemen untuk menyusun rencana kerja perusahaan.

Ibaratnya, sebuah rencana kerja yang baik harus mampu memenuhi kelima prinsip SMART ini. Dan, begitu pula jika kita terapkan dalam penyusunan resolusi pribadi, sebuah resolusi yang baik tentu juga harus mampu memenuhi kelima unsur SMART ini.

Berikut adalah ulasan bagaimana menyusun resolusi yang baik berlandaskan SMART objektif.

Specific

Sebuah resolusi yang baik harus jelas dan spesifik tujuannya. Bukan hanya mengenai target capaiannya saja, tetapi spesifik juga terkait proses pelaksanaannya. Seringkali kita memasang target yang spesifik pada hasil, tetapi tidak jelas akan prosesnya.

Bahkan, resolusi yang tidak spesifik seringkali berujung pada keraguan, ambigu, dan terkesan normatif tak bertujuan. Misalnya, resolusi ingin menjadi pribadi yang lebih baik di 2017. Pribadi baik adalah contoh target yang tidak spesifik karena belum jelas indikator baik yang hendak dicapai.

Alangkah lebih jelasnya jika resolusi tersebut diganti dengan ‘menjadi pribadi yang lebih mudah tersenyum di tahun 2017’. Kata ‘mudah tersenyum’ bisa jadi salah satu pengejawantahan dari kata baik. Atau, bisa juga kita ganti dengan kata rajin berdonasi, gemar menolong, atau indikator lainnya yang lebih spesifik dan menggambarkan maksud kata baik.

Measurable

Indikator kedua ialah measurable atau terukur. Sebuah resolusi yang sudah spesifik juga harus terukur dan jelas batasannya. Rencana yang baik adalah rencana yang memiliki batas capaian yang jelas, dan begitu juga resolusi pribadi Anda. Resolusi harus memiliki batas capaian yang bisa terukur dengan baik dan mudah dimengerti. Pengukuran resolusi bisa menggunakan standar waktu, biaya, persentase, durasi, atau standar lainnya. Misalnya, resolusi Anda ingin menjalani diet di tahun 2017 ini. Tetapkan standar pengukuran Anda. Menjalani diet sudah spesifik, tapi belum terukur. Kenapa tidak menuliskan resolusi “menjalani diet dengan target menurunkan berat badan 10 Kg di tahun 2017”.


Achievable

Achievable atau juga ada yang menyebutnya dengan attainable merupakan indikator ketiga yang memandu Anda dalam menyusun resolusi yang terstruktur dan terencana dengan baik. Resolusi Anda harus menjadi prioritas dalam kegiatan sehari-hari Anda. Komitmen untuk melaksanakan capaian resolusi tersebut harus menjadi fokus Anda dalam skala prioritas yang baik.

Ketika Anda mampu menetapkan prioritas Anda dalam rencana tahunan ini, maka Anda juga akan bisa menyesuaikan perilaku dan waktu. Achievable bukan hanya soal apakah resolusi Anda akan mampu terpenuhi atau tidak, tapi ia juga bicara tentang kemampuan Anda untuk meletakkan resolusi dalam skala prioritas sehari-hari.


Reliable

Objektif keempat ialah terkait keselarasan target resolusi Anda dengan latar belakang perjalanan hidup Anda. Seringkali orang membuat resolusi tahunan yang justru jauh panggang dari api, jauh kenyataan dari harapan. Merancang resolusi harus dimulai dari dua niat penting, MAU dan MAMPU.

Kadang, ada orang yang mau mencapai target resolusi tertentu, tetapi ia tidak mampu. Atau ada orang sebaliknya, mampu berbuat apa yang dia harapkan, tapi tidak mau untuk melakukan. Konsep reliable di sini menuntut Anda untuk mampu memadukan antara kemauan dan kemampuan agar berjalan seiring dalam mewujudkan rencana tahunan Anda. Tentu dengan berkaca pada pengalaman masa lalu, keberhasilan rekan sejawat, atau perjalanan hidup orang lain merupakan beberapa cara untuk mengukur kemampuan dan kemauan Anda. Namun, pada akhirnya, komitmen dan keyakinan Anda adalah alat ukur yang paling bisa Anda andalkan.


Timely

Dan, objektif terakhir ialah perkara waktu pelaksanaan resolusi. Target capaian resolusi harus ditulis dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan timeline. Rentang waktu satu tahun harus mendapat penjelasan yang jelas dan akurat dalam pelaksanaannya. Penulisan timeline akan memandu Anda untuk mengontrol perjalanan rencana resolusi.

Selain itu, timeline yang baik juga bisa menjadi bahan evaluasi untuk melihat capaian target dalam jangka waktu pendek agar mampu merevisi strategi untuk mencapai target utama dalam jangka panjang. Untuk itu, target resolusi Anda untuk satu tahun harus diturunkan ke dalam target bulanan, mingguan, atau mungkin bahkan target harian.

Pada akhirnya, sebuah resolusi yang baik harus mampu dikelola dengan baik pula. SMART Objektif hanya membantu Anda untuk menyusun strategi yang terstruktur dan terukur. Namun bagaimanapun, realisasi dari resolusi harus berasal dari keteguhan hati.  Jangan jadikan resolusi hanya sekadar mimpi yang tak pernah tercapai. Jadikanlah resolusi sebagai mimpi yang terencana dengan matang dan sesuai takarannya.

Mari merancang mimpi dan menakar resolusi!




Share