Menghadapi Risiko Global & Social Megatrends

Manajemen sebagai panutan harus terbiasa memimpin dan berkomunikasi dengan berbagai jenis media sosial dalam pendelegasian tugas, memimpin diskusi kerja melalui virtual meeting.

Text and image block


 

Oleh: Yanuar Andrianto, M.M.

           MiniMBA Program Coordinator in ICT Business PPM School of Management

 *Tulisan ini tayang di Majalah Sindo Weekly  No. 51 Tahun V, 
20- 26 Februari 2017 p. 82


Every Business Takes Risks. Tahun 2017 sudah masuk bulan kedua. Perusahaan sudah bekerja untuk memperoleh hasil gemilang di tahun Ayam Api ini. Namun, perlu dipahami, keberhasilan aksi windows dressing yang dilakukan bisa jadi hanya memuaskan investor sesaat di penghujung tahun lalu. Saat ini, perusahaan dituntut memiliki strategi digital  sebagai syarat utama berkompetisi di digital economy.

Seyogyanya, perusahaan melakukan modernisasi pada segala aspek bisnis, seperti melakukan e-Procurement, e-SCM, e-HR, e-Learning, digital transactions, hingga big data analytic. Demikian juga halnya dalam berkompetisi, baik produk barang atau jasa, pendekatan bisnis yang digunakan mulai berbasis e-commerce, digital marketing, dan digital services.

Manajemen harus peduli dan sigap merespons perubahan iklim bisnis global mengarah ke digital economy. Sebagaimana hasil studi yang dilakukan UN Global Compact and DNV GL (2015), beberapa perubahan global dan social megatrends akan berdampak pada daya saing perusahaan, seperti perubahan struktur demografis dan urbanisasi besar-besaran, inovasi digital yang sangat cepat berubah, kompetisi inovasi yang semakin meningkat, dan isu perubahan iklim dunia.

Kesiapan organisasi dalam mengaplikasikan strategi digital sangat bergantung pada semangat positif yang dibawa oleh manajemen puncak. Perusahaan akan menghadapi banyak hal baru dalam mengaplikasikan proses digitalisasi.

Pertama, manajemen harus mampu menerjemahkan strategi digital dengan bahasa dan logika yang mudah dipahami organisasi sebagai upaya membangun awareness. Upaya ini harus konsisten dilakukan agar karyawan memiliki sense urgency dalam mengaplikasikan program kerja baru di perusahaan.

Kedua, menciptakan iklim kerja yang mendukung e-working style. Iklim ini juga berorientasi pada hasil. Manajemen sebagai panutan harus terbiasa memimpin dan berkomunikasi dengan berbagai jenis media sosial dalam pendelegasian tugas, memimpin diskusi kerja melalui virtual meeting, hingga pilihan bekerja yang tidak selalu harus di kantor. 

Ketiga, memberi kepercayaan kepada karyawan dalam berkreasi dan mengambil keputusan. Manajemen puncak perlu memotivasi karyawan berkreasi secara konsisten. Perlu menyiapkan executive dashboard yang mampu memberi data kinerja terperinci secara real-time sehingga dapat memantau kinerja karyawan dan organisasi.

Beberapa langkah tersebut menjadi prioritas organisasi untuk mengawali penerapan strategi digital agar perusahaan menjadi lebih siap dalam eksekusi program kerjanya dan bisa membawa perubahan bagi organisasi di era digital.

Manajemen dituntut lebih berani mengalokasikan belanja perusahaan untuk membangun infrastruktur teknologi informasi perusahaan. Manajemen juga harus mempersiapkan suatu perangkat pengelolaan risiko dalam memprediksi kemungkinan ancaman yang dapat membahayakan keberlanjutan perusahaan. Penerapan manajemen risiko terintegrasi (Integrated Enterprise Risk Management) menjadi suatu pendekatan sistematis untuk mengawal strategi digital beserta strategi alternatif agar berjalan sesuai rencana. Tujuannya, jika terjadi gejolak, perusahaan bisa dengan cepat mengambil keputusan dengan tepat dan akurat.

Melalui penerapan manajemen risiko terintegrasi, perusahaan dapat mendeteksi sedini mungkin risiko yang muncul dan mengukur seberapa besar kemungkinan serta dampaknya bagi perusahaan. Hal ini penting, mengingat dalam kondisi penuh tekanan dan mendesak, keputusan yang diambil bisa jadi kurang efektif dan biaya, termasuk emotional cost, yang dikeluarkan tidak sedikit. Hadirnya manajemen risiko membantu perusahaan memetakan risiko yang dihadapi sehingga perusahaan dapat menentukan langkah preventif atau respresif yang diambil.

Penerapan manajemen risiko terintegrasi akan membentuk suatu budaya yang dapat membantu perusahaan berdaya saing. Seluruh level karyawan dan jabatan menjadi selalu waspada akan risiko yang dihadapi dan memecahkan setiap persoalan bisnis dengan perencanaan yang matang. Perusahaan menjadi lebih kompetitif dalam merespons fundamental masa depan yang erat dengan perubahan. Dengan demikian, kecemasan para investor terhadap masa depan perusahaan dapat diminimalisasi.


Share