Akomodasi

Konflik juga mempunyai nilai baik jika dikelola dengan baik. Karena jika tidak ada konflik maka tidak ada perubahan, karena tidak muncul ide-ide baru, tidak muncul tata kelola baru.

Text and image block

 




Oleh : Gerad Pasolang, M.M.
– Trainer, Executive Development Program
  PPM Manajemen

*Tulisan dimuat di
SWA Online

Dalam beraktivitas sehari-hari baik dalam pergaulan maupun pekerjaan, acap kali terjadi gesekan-gesekan yang tidak diidamkan, alhasil membuat jalannya aktifitas kurang enak. Sudah sepatutnya gesekan tadi kita tinggalkan dan cari solusinya. Kalau sudah begitu, idealnya setiap orang saling memaafkan dan memulai lembaran baru dalam ber-relationship. Saling memaafkan memang diperlukan karena dalam berinteraksi antar individu atau antar kelompok, terjadinya konflik tidak dapat dihindari.

Sejatinya, konflik juga mempunyai nilai baik jika dikelola dengan baik. Karena, jika tidak ada konflik maka tidak ada perubahan, karena tidak muncul ide-ide baru, tidak muncul tata kelola baru. Bila hal ini terjadi dalam suatu organisasi, itu ditandai dengan situasi dalam organisasi tersebut apatis dan stagnan, dan bisa berefek pada rendahnya kinerja setiap individu dalam organisasi tersebut. Derajat Konflik dapat digambarkan dalam bentuk kurva normal, dimana titik puncak kurva adalah derajat optimal konflik.

Sebaliknya, jika derajat konflik terlalu tinggi maka dapat merusak hubungan antar individu atau antar kelompok sehingga kerja sama yang baik sulit didapat baik itu antar individu maupun antar kelompok. Bila hal ini terjadi dalam organisasi, dapat mengakibatkan kinerja individu menjadi rendah, kinerja perusahaan pun merosot karena konflik berkepanjangan yang tidak dikontrol.

Untuk membuat derajat konflik optimal diperlukan kemampuan dalam mengelola konflik yang dapat dilihat dari dua unsur, yaitu kepentingan terhadap konflik dan kemampuan dalam bekerja sama menyelesaikan konflik.

Salah satu konflik yang sering terjadi dalam organisasi disebabkan karena hasil kerja subordinat yang tidak sesuai dengan harapan atasan atau subordinat melakukan kesalahan dalam pekerjaannya.

Bila kesalahan tersebut adalah kesalahan pertama, maka cara mengatasi konflik yang paling efektif yang dapat dilakukan oleh atasan adalah akomodasi. Jika dikaitkan dengan dua unsur dalam mengelola konflik yang telah disebutkan sebelumnya, akomodasi terkait dengan tidak adanya kepentingan terhadap konflik tetapi ‘partner konflik’ mampu mendukung atau bekerjasama untuk menyelesaikan konflik.

Dalam kasus subordinat melakukan kesalahan, yang berkepentingan atau bertanggung jawab menyelesaikan atau memperbaiki kesalahan tersebut adalah subordinat itu sendiri. Tetapi bila hal itu adalah kesalahan pertama maka seharusnya atasan memfasilitasi yang bersangkutan untuk dapat belajar dari kesalahannya sehingga tidak terulang lagi, dengan syarat kesalahan tersebut bukan perbuatan kriminal atau yang bertentangan dengan hukum dan aturan perusahaan.

 

Untuk kesalahan pertama yang masih bisa ditolerir hal ini perlu dilakukan, menurut penelitian para ahli mengenai cara kerja otak manusia, otak tidak dapat melakukan multi tasking dalam satu waktu, dengan kata lain otak hanya dapat fokus dalam satu hal dalam satu waktu. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa stres yang berat akan menurunkan kemampuan otak seseorang untuk belajar.

Berdasarkan penelitian tersebut pula, untuk mempelajari suatu kesalahan dengan optimal, otak perlu difokuskan pada penyebab kesalahannya sehingga dapat mencari solusinya, dan ini tidak akan optimal bila fokus otak diganggu dengan pemberian punishment atau ‘amarah atasan’ sebagai konsekuensi negatif dari kesalahan tersebut. Disamping itu, dengan pemberian punishment dan ‘amarah atasan’ dapat mengakibatkan otak menjadi stres berat sehingga tidak akan optimal dalam mempelajari kesalahan.

Bentuk akomodasi yang perlu dilakukan atasan untuk kesalahan pertama yang bisa ditolerir adalah mengoreksi kesalahan tersebut melalui diskusi dengan subordinat untuk membantunya mengetahui penyebab kesalahannya, dan memfasilitasi yang bersangkutan untuk menemukan solusi terbaiknya. Cara ini juga akan membentuk atasan menjadi pemimpin yang bijaksana dalam mengembangkan subordinat yang dipimpinnya menjadi problem solver yang mandiri.

Share