• September  2014
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
    1 2 3 4 5 6 7
    8 9 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30  
  • Bersaing Lewat Inovasi dan Pengembangan Produk Baru

    Auditorium Sekolah Tinggi Manajemen PPM, 29 Januari 2013. Seiring dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian nasional, kebutuhan akan inovasi dan pengembangan produk baru di Indonesia juga bertumbuh secara signifikan, senada dengan kenyataan tersebut organisasi, perusahaan, dan masyarakat memerlukan pendorong yang dapat mengekskalasi daya saing mereka di tingkat global. Tidak dipungkiri memang telah ada semangat di tingkat nasional untuk berinovasi dan mengembangkan produk baru, namun belum ada lembaga yang dapat mengkolaborasikan antara Pemerintah, Akademisi dan kalangan dunia usaha itu sendiri.

    Adalah kemudian PPM Manajemen yang menjalin kerjasama dengan PDMA dan sekaligus memprakarsai terbangunnya PDMA Indonesia yang kami yakini akan sangat diperlukan, dan akan akan mendorong terjalinnya kerjasama antara profesional, Research and Development di dunia usaha, kalangan pemasar, kalangan akademik, dan semua orang yang memangku kepentingan dalam proses pengembangan produk baru (new product development), jasa baru (new service), dan juga proses yang baru (new process). PDMA menjadi bagian dalam sebuah inovasi perusahaan untuk unggul dalam bersaing.

    Khusus dalam proses pengembangan dan inovasi produk baru yang memang menjadi fokus utama PDMA Indonesia, kami melihat bahwa produk baru dapat dibedakan sebagai produk-produk yang benar-benar baru (new-to-the-world products), dapat juga merupakan lini produk baru, atau tambahan untuk lini produk yang telah ada sebelumnya, dapat juga merupakan hasil dari proses pengembangan dari produk yang telah ada, atau produk yang merupakan buah repositioning atau dampak dari cost reduction.

    Sungguh tidak sedikit biaya yang dikeluarkan perusahaan ketika melahirkan produk baru. Mimpinya produk tersebut akan membuahkan keuntungan jangka panjang. Namun, pasar sering berkehendak lain, dengan kejamnya pasar menenggelamkan produk tersebut dalam lembah kegagalan, di saat produk baru tersebut menghirup keberhasilan.

    Pasar yang dinamis dan sulit diprediksi ditengarai sebagai faktor yang membuat perjalanan produk baru tidak semulus yang dibayangkan, sehingga pemahaman yang baik dalam mengelola proses lahirnya produk baru diharapkan dapat memperbesar peluang kesuksesan sebuah produk ketika dilepas di pasar. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh pakar manajemen produk baru, Robert G Cooper, menunjukkan bahwa kelemahan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi dalam manajemen pengembangan produk baru menjadi salah satu penyebabnya. Riset lanjutan menyatakan bahwa produk yang superior dan memberikan manfaat yang unik, berbeda dengan produk yang telah ada sebelumnya, serta memberikan nilai tambah bagi pasar, merupakan penggerak kesuksesan sebuah produk baru.

    Sebuah pertanyaan yang menggelitik, apakah manajemen produk baru itu seni atau ilmu? Sebenarnya manajemen produk baru merupakan cabang dari ilmu pemasaran yang berkembang pesat sejalan dengan perkembangan inovasi dalam ranah bisnis. Selain ilmu, manajemen produk baru juga bisa disebut seni karena sesekali menggunakan intuisi dan pengalaman pribadi sang manajer. Jadi, manajemen produk baru bisa dikatakan merupakan kombinasi dari ilmu dan seni. Kombinasi keduanya saling melengkapi, dan mendukung keputusan lahirnya produk baru yang dapat diterima oleh pasar.

    Praktisi pemasaran yang bergelut dalam pengembangan produk sering kali saya menghadapi tuntutan agar segera meluncurkan produk baru ke pasar, tentunya agar tampil sebagai yang pertama masuk ke pasar. Untuk mempercepat produk masuk ke pasar, akhirnya mengorbankan banyak tahapan proses pengembangan produk yang seharusnya dilakukan. Tidak dipungkiri lagi, dalam kondisi seperti ini intuisi sang pemilik perusahaan memegang peran penting, sehingga produk baru bisa segera diluncurkan, ironisnya karena mengejar lebih cepat ada di pasar, mengakibatkan tidak adanya perhitungan yang matang yang biasanya berujung pada kegagalan.

    Mengapa terjadi kecenderungan ini? Seperti yang diungkapkan oleh McDonough III & Barczak, 1991; Kessler & Chakrabarti, 1996: “ speed kills the competition”. Percepatan pengembangan produk bisa menurunkan biaya inventory dari finished good dan meningkatkan pangsa pasar. Namun, kita perlu berhati-hati, ada lima tipe hidden cost jika pengembangan produk tidak dilakukan dengan benar (Crawford, 1992). Lima tipe tersebut adalah rendahnya profit, kesalahan akan banyak terjadi, meningkatkan biaya sumberdaya manusia, terjadi in-efisiensi karena dibawah tekanan waktu, dan kerusakan sumberdaya pendukung perusahaan yang kompleks. Oleh karenanya, memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan produk adalah sebuah keniscayaan.

    Tidak banyak institusi di Indonesia yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan seputar pengembangan produk. Untuk tingkat global saat ini ada asosiasi yang banyak memfasilitasi pengembangan produk terhadap pemerhati, praktisi maupun akademisi pemasaran yakni Product Development Management Association (PDMA) yang bermarkas di Amerika Serikat (www.pdma.org). PDMA sendiri telah berpengalaman selama lebih dari 30 tahun dalam proses pengembangan pengetahuan dan menyelenggarakan program sertifikasi internasional pengembangan produk baru. Saat ini PPM Manajemen telah menjadi mitra PDMA.

    Pertanyaan selanjutnya, lalu siapa yang seharusnya memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang manajemen pengembangan produk? Menilik struktur fungsional dalam organisasi di perusahaan, tentu mereka yang memgang peran sebagai Manajer Produk, Manajer Pemasaran dan Manajer Penelitian dan Pengembangan (Research and Development), adalah mereka yang seharusnya memiliki pengetahuan dan keterampilan memanajemeni proses lahirnya produk baru.

    Penulis memandang sudah saatnya semua fungsi dalam perusahaan di Indonesia memahami secara benar proses pengembangan produk sehingga memiliki daya saing termasuk dengan produk impor. Hal ini perlu dilakukan apabila kita menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 dan Kerja Sama Ekonomi Regional Terpadu (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang sudah di depan mata.

    Dalam acara Peluncuran PDMA Indonesia ini juga akan dihadiri oleh Allan M. Anderson BTech(Hons), PhD, FNZIFST, NPDP, Profesor untuk mata ajaran Product Development dan juga Direktur Pemasaran School of Engineering and Advanced Technology, Massey University, Selandia Baru, selain Profesor Allan turut juga hadir Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Bapak Adhi S. Lukman dan President of Indonesia Marketing Association (IMA), Bapak Ronny Liyanto. ndi/prk/rof/I/13