• September  2014
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
    1 2 3 4 5 6 7
    8 9 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30  
  • Barbarians at the Gate

    Oleh: Toto Prihadi*

    Judul di atas digunakan oleh Bryan Burrough dan John Helyar untuk menceritakan kisah klasik tentang pengambilalihan Nabisco yang sangat terkenal di tahun 1988. Kisah tersebut merupakan perebutan saham dengan cara leveraged buy-out (LBO) antara KKR dengan CEO perusahaan tersebut. Tentu tulisan ini tidak bermaksud membahas buku tersebut. Akan tetapi lebih kepada bagaimana orang dengan ketamakannya bisa berada dekat sekali dengan kita. 

    Tumbuhnya perusahaan
    Wirausaha melakukan semuanya sendirian ketika pertama kali membuka usaha. Seiring perkembangannya maka dia mulai menambah tenaga kerja. Demikian seterusnya jumlah karyawan makin banyak. Satu per satu pekerjaan didelegasikan. Yang tinggal adalah urusan keuangan yang dipegang sendiri. Pola tersebut muncul dan terus berulang. Urusan uang sangatlah krusial, sehingga menjadi bagian terakhir yang akan didelegasikan.

    Ketika perusahaan membuka cabang di tempat lain, masih banyak dijumpai adanya sentralisasi masalah keuangan. Sebuah perusahaan asuransi besar memberikan droping sejumlah uang untuk keperluan rutin cabang-cabangnya. Akan tetapi seluruh premi yang masuk setiap hari haruslah dimasukkan ke rekening kantor pusat.

    Manajemen sebagai agen
    Ketika perusahaan sudah besar, pemilik mulai terpisah dengan manajemen. Manajemen dipegang para profesional yang bukan pemilik. Pemilik memberi target laba yang harus dicapai oleh manajemen setiap tahun. Kinerja yang baik berefek pada pemberian bonus, baik berupa uang tunai maupun sejumlah lembar saham. Tugas manajemen adalah memberikan kemakmuran kepada pemegang saham. Sampai di sini tugas manajemen cukup jelas. Kemudian muncullah beberapa kasus di mana manajemen bertindak atas kepentingannya dengan berbagai cara. Bagaimana menjelaskan hal ini?

    Agen (manajemen) dapat bertindak atas kepentingannya sendiri. Mereka tidak selalu dalam posisi memaksimumkan kepentingan pemegang saham. Mereka bisa mengutamakan kepentingannya sendiri dengan menumpuk kekayaan. Bentuknya berbagai macam. Apabila tindakannya diarahkan pada penyusunan laporan keuangan yang mengarahkan tingkat laba seperti yang diinginkan, maka disebut dengan earning management.

    Earning management mengarah pada dua hal. Pertama adalah laba terlihat mengesankan, dan kedua harga saham akan terdorong meningkat. Yang terakhir tentu hanya bisa dilakukan untuk perusahaan publik. Laba besar berimbas pada bonus besar. Apabila laba besar diapresiasi investor di pasar modal, maka harga saham meningkat. Kekayaan manajemen dalam bentuk saham perusahaan meningkat. Pada kondisi harga tinggi mereka dapat melepas saham tersebut. Cerita terakhir dapat mengambil contoh pada skandal Enron tahun 2002 di Amerika.

    Power & fraud
    Keserakahan (greed) dapat juga menjadi pendorong terjadinya fraud. Pada posisi tertentu seseorang dapat mempunyai kekuasaaan besar dalam mengelola keuangan. Hal ini terjadi pada chief financial officer (CFO) di sebuah perusahaan besar, atau mereka yang mengelola dana besar baik di bank konvensional maupun investment bank.

    Pelaku kejahatan kerah putih berada pada posisi yang dapat dipercaya. Perusahaan biasanya membagi wewenang dalam bentuk otorisasi  bertingkat untuk pengesahan cek. Tentu dengan harapan terjadi kontrol atas pengeluaran uang. Masalahnya kemudian adalah bagaimana kalau pada level atas terjadi kolusi? Pada kondisi ini kontrol internal menjadi tumpul. Hal ini sudah menyangkut masalah orang. Perlu dicatat, bahwa orang yang semula cakap dan jujur bisa berubah, baik karena ada kesempatan maupun karena tekanan, apapun bentuk tekanan tersebut, internal atau eksternal.

    Apabila posisi kita sebagai pihak yang mengelola dana orang lain, maka kesempatan yang timbul bisa berbagai macam. Dalam betuk yang paling kasar adalah mengambil secara langsung tanpa pemilik mengetahui dengan berbagai sebab. Bentuk lainnya adalah secara sengaja berinvestasi dan melaporkan kerugian. Hal ini bisa dilakukan dengan mendirikan perusahaan fiktif yang menampung investasi dan suatu saat akan melaporkan kegagalan investasi. Modus seperti ini lebih sulit untk dibuktikan, aplagi kalau perusahaan yang disebutkan tersebut berada di luar negri.

    Bentuk yang paling sering terjadi adalah skema Ponzi. Model ini terakhir terjadi di Amerika adalah dilakukan Madoff. Posisi sebagi mantan pejabat SEC membuatnya sangat dipercaya publik, sehingga leluasa menggaet dana besar dari nasabah kaya. Pada model ini dana yang baru terkumpul digunakan untuk membayar hasil investasi atau bunga kepada pemegang investasi sebelumnya. Jadi memang tidak terjadi investasi yang sesungguhnya.

    Mempercayai
    Kepada siapa anda akan percaya?
    Dalam pemberian pinjaman, karakter (character) sebagai faktor pertama dari 5C, menunjukkan bahwa pengenalan atas sifat penerima pinjaman merupakan fondasi pertama analisis. Apabila orang sudah tidak dapat dipercaya sifatnya, apalagi laporan keuangan yang dihasilkan. Komposisi siapa manajemen perusahaa  juga menggambarkan corporate governance perusahaan tersebut.

    Bagaimana kalau sebaliknya, anda akan menitipkan uang di bank? Reputasi adalah koridor untuk memilih sebuah bank. Sebuah lembaga keuangan di Indonesia menempatkan reputasi sebagai risiko tertinggi yang perlu di monitor terus-menerus. Bank adalah sebuah perusahaan yang dikecualikan dalam struktur modalnya. Perusahaan apakah yang utangnya paling besar? Jawabannya adalah bank, karena bank secara institusional mempunyai regulator khusus yang memungkinkan hal tersebut terjadi.

    Perusahaan dan perorangan perlu merasa aman pada waktu menitipkan uangnya di bank dan lembaga keuangan lainnya. Rasa aman tersebutlah yang merupakan salah satu penyebab sebuah bank berkembang. Dalam bentuknya yang paling ekstrim, rush akan terjadi apabila sebagian besar nasabah penyimpan kehilangan rasa aman dan kemudian beramai-ramai menariknya. Ketika  ada bank terindikasi adanya manipulasi oleh manajernya, sebuah bank berinisitif mengganti dana nasabah yang hilang. Hal ini dilakukan untuk menjaga reputasi bank tersebut. Walaupun demikian, hal ini tidak selalu terjadi. Pada beberapa kasus yang muncul beberapa tahun terakhir, beberapa bank memilih jalur hukum dengan hasil akhir yang beragam.